Dongeng pengantar tidur agar kita masih punya harapan *Macan yang Mengaum ke Pawangnya*

- Penulis

Kamis, 8 Januari 2026 - 21:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dongeng pengantar tidur agar kita masih punya harapan

*Macan yang Mengaum ke Pawangnya*

Kita ini hidup di negeri yang aneh. Macannya mengaum keras. Pawangnya tenang.
Yang takut justru penontonnya—takut harapannya keburu mati.

Katanya macan Asia. Katanya paling berani.
Katanya mau mengejar koruptor sampai Antartika.

Padahal untuk keluar kandang saja… masih nunggu izin. Masalahnya bukan macannya kurang buas. Masalahnya: dia mengenal baik siapa yang pegang kunci.

Setiap kali macan mengaum, publik bersorak.
“Kali ini serius!”
“Kali ini beda!”
“Kali ini macan benar-benar macan!” Tapi pawangnya cuma angkat alis. Karena dia tahu: auman tidak pernah menggigit siapa pun.

Ini macan yang rajin mengancam mangsa imajiner, tapi selalu rabun ketika mangsa berdiri tepat di sebelah kandang.

Koruptor itu bukan zebra yang lari di savana. Mereka duduk di tribun kehormatan. Foto bareng. Bersalaman. Kadang… ikut memberi makan.

Lucunya, setiap kali macan ditanya, “Kenapa yang itu belum diterkam?” Jawabannya selalu retoris: “Kita tidak boleh tebang pilih.” Padahal yang terjadi justru sebaliknya: yang dipilih justru jangan ditebang.

Macan ini hebat dalam satu hal: menunda dengan wibawa. Mandeg dengan percaya diri. Stagnan tapi terdengar patriotik.

Dia mengaum ke depan kamera, tapi berbisik ke belakang layar. Ini bukan soal keberanian individual.
Ini soal sistem kandang. Soal lingkaran pawang.
Soal fakta pahit bahwa macan yang hidup dari kandang…
jarang sekali mau merobohkannya.

Karena untuk benar-benar menerkam korupsi,
macan harus siap kehilangan dua hal:
kenyamanan dan kawan lama.

Dan itu lebih menakutkan
daripada Antartika.
Jadi jangan tanya,
“Apakah pawang takut pada macan?”

Tanya yang lebih jujur:
apakah macan berani menggigit tangan yang selama ini dia jilat?

Selama jawabannya belum, auman hanya akan jadi noise politik— keras, berulang,
dan tak pernah berdarah.

Macan tetap macan.
Koruptor tetap gemuk.
Dan rakyat? Tetap jadi penonton di kebun binatang bernama harapan.

Surabaya, Sore, 8 Januari 2025

*Forum Majelis Ngopi Maneh Suroboyo*

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
Senator Cantik Lia Istifhama Bangga Dengan Ratu Ayu Alina Mirza
Indonesia’s Girl 2026: Ratu Ayu Alina Mirza, Siswi SMPN 1 Surabaya yang Didukung Family Karaton dan Tokoh Nasional
Refleksi Delapan Dekade Bhayangkara Negara (REDEBHARA)

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2