Di Jalan Siding Puri, Parsanga, masih berdiri sebuah pintu gerbang tua yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Sumenep. Banyak orang melewatinya setiap hari, namun tidak semua memahami bahwa di tempat itulah dahulu berdiri Keraton Siding Puri, pusat pemerintahan Sumenep pada abad ke-16 di masa pemerintahan Pangeran Siding Puri (Raden Wanabaya) keturunan penguasa awal Sumenep Arya Wiraraja.
Parsanga bukan tanah biasa. Dalam catatan sejarah lokal, wilayah ini pernah menjadi pusat kekuasaan, tempat lahirnya keputusan-keputusan penting kerajaan, sekaligus simbol kehormatan leluhur Sumenep. Kini yang tersisa hanya gerbang tua, puing pondasi, dan cerita yang perlahan mulai dilupakan.
Ironisnya, di tengah jejak sejarah sebesar itu, hari ini Parsanga justru lebih sering terdengar karena polemik tanah, sengketa lahan, dan suara rakyat yang merasa kehilangan ruang hidupnya. Tanah yang dahulu dijaga sebagai simbol martabat kerajaan, kini menjadi arena tarik-menarik kepentingan.

Seakan sejarah sedang berulang dalam bentuk berbeda.
Dulu Keraton Siding Puri berdiri untuk menjaga wilayah dan rakyatnya. Hari ini masyarakat justru bertanya: apakah tanah bersejarah itu masih dipandang sebagai warisan leluhur… atau hanya sebatas hamparan lahan yang bisa dipindahkan maknanya?
Gerbang tua Siding Puri sebenarnya sedang memberi pesan kepada generasi sekarang. Bahwa sebuah daerah besar bukan hanya dibangun dengan proyek dan kekuasaan, tetapi juga dengan penghormatan terhadap sejarah dan rakyat yang hidup di atas tanah itu.
Karena ketika sejarah mulai dilupakan, maka yang hilang bukan hanya bangunan tua… tetapi juga jati diri sebuah daerah.
Dan mungkin itu sebabnya pintu gerbang tua di Parsanga masih berdiri hingga hari ini — bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa tanah ini pernah menjadi pusat kehormatan Sumenep.
Penulis : R.Arya M. Rusli
Editor : Jagat Indonesia








