Parsanga, Tanah Keraton Siding Puri yang Kini Diperebutkan Zaman

- Penulis

Senin, 25 Mei 2026 - 03:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber foto RRI.co.id

Sumber foto RRI.co.id

Di Jalan Siding Puri, Parsanga, masih berdiri sebuah pintu gerbang tua yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Sumenep. Banyak orang melewatinya setiap hari, namun tidak semua memahami bahwa di tempat itulah dahulu berdiri Keraton Siding Puri, pusat pemerintahan Sumenep pada abad ke-16 di masa pemerintahan Pangeran Siding Puri (Raden Wanabaya) keturunan penguasa awal Sumenep Arya Wiraraja.

Parsanga bukan tanah biasa. Dalam catatan sejarah lokal, wilayah ini pernah menjadi pusat kekuasaan, tempat lahirnya keputusan-keputusan penting kerajaan, sekaligus simbol kehormatan leluhur Sumenep. Kini yang tersisa hanya gerbang tua, puing pondasi, dan cerita yang perlahan mulai dilupakan.

Ironisnya, di tengah jejak sejarah sebesar itu, hari ini Parsanga justru lebih sering terdengar karena polemik tanah, sengketa lahan, dan suara rakyat yang merasa kehilangan ruang hidupnya. Tanah yang dahulu dijaga sebagai simbol martabat kerajaan, kini menjadi arena tarik-menarik kepentingan.

Prasasti dengan Tanda Tangan Bupati Sumenep

Seakan sejarah sedang berulang dalam bentuk berbeda.

Dulu Keraton Siding Puri berdiri untuk menjaga wilayah dan rakyatnya. Hari ini masyarakat justru bertanya: apakah tanah bersejarah itu masih dipandang sebagai warisan leluhur… atau hanya sebatas hamparan lahan yang bisa dipindahkan maknanya?

Gerbang tua Siding Puri sebenarnya sedang memberi pesan kepada generasi sekarang. Bahwa sebuah daerah besar bukan hanya dibangun dengan proyek dan kekuasaan, tetapi juga dengan penghormatan terhadap sejarah dan rakyat yang hidup di atas tanah itu.

Karena ketika sejarah mulai dilupakan, maka yang hilang bukan hanya bangunan tua… tetapi juga jati diri sebuah daerah.

Dan mungkin itu sebabnya pintu gerbang tua di Parsanga masih berdiri hingga hari ini — bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa tanah ini pernah menjadi pusat kehormatan Sumenep.

Facebook Comments Box

Penulis : R.Arya M. Rusli

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
KECELAKAAN MAUT DI MARENGAN LAOK: SISWA SMPN 2 SUMENEP MENINGGAL DUNIA
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2