Menakar Arah Gegeran NU 2026

Sabtu, 20 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Firman Syah Ali

Di ruang publik hari ini, suara-suara sumbang mengenai dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU), sebut saja gegeran NU 2026, sering kali terdengar begitu nyaring, bahkan terkadang mengandung sinisme. Berbagai spekulasi mengenai keretakan, perdebatan runcing, hingga fluktuasi gesekan antar-kubu, kerap dianggap sebagai tanda “gawat darurat” bagi organisasi.

Namun, jika kita menarik garis sejarah yang panjang, kita akan menemukan sebuah pola yang berulang (arketipe). NU adalah organisasi yang “hidup” justru karena ia terus-menerus berdialektika dalam keberagaman, perbedaan, pertentangan, bahkan pergelutan.

Sejarah mencatat, NU bukan organisasi monolitik. Ketegangan, perdebatan, dan silang pendapat adalah bahan bakar yang selama hampir satu abad menjaga NU tetap relevan.

TRADISI IKHTILAF

Sejak awal berdirinya, NU sudah dirancang di atas fondasi Ahlussunnah wal Jama’ah yang menghargai perbedaan pendapat (ikhtilaf). Mu’assisun menanamkan prinsip bahwa perbedaan pendapat di kalangan kiai bukanlah sebuah aib, melainkan kekayaan khazanah intelektual NU.

Ketika para pengurus, aktivis dan kader NU hari ini berselisih, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan tradisi perdebatan yang sudah diwariskan dari Taswirul Afkar hingga meja-meja Bahtsul Masail. Hanya saja, ketika perdebatan itu keluar dari ruang akademis, pindah gawang ke lapangan politik praktis, ia sering kali terlihat seperti perpecahan. Padahal, sejarah membuktikan bahwa friksi tersebut adalah mekanisme alamiah NU untuk menemukan titik keseimbangan baru.

Penulis : Cak Firman

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Khidmat dan Penuh Haru, Ribuan Jamaah Hadiri Haul Akbar Bujuk Makam Zimat Sayyid Husein Banyusangkah
Keberhasilan Dr. Naghfir Meraih Gelar Doktor Disambut Sukacita oleh Keluarga Besar MTA MAQOMAM MAHMUDA Batuan
Raih Gelar Doktor di UIN Malang, Dr. Naghfir Jadi Inspirasi Keluarga Besar Rumah Khotmil Qur’an Naghfir
Gelar Doktor untuk Dr. Naghfir: Kebanggaan Majelis Ratibul Haddad Naghfir dalam Mengabdi untuk Umat
UNAIR Tembus Tiga Besar Nasional, Firman Syah Ali: Momentum Perkuat Hilirisasi Riset untuk Bangsa
Sinergi Pusat-Daerah: 9 Paket Program Ayam Petelur Siap Berdayakan Peternak Jombang
Fakta di Balik ‘Lempar Batu Sembunyi Tangan’ Eks Pengurus NU Kota Situbondo
Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Khidmatnya Haul Bujuk Buarren Pamekasan Pererat Silaturahmi Keluarga Besar

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 22:44 WIB

Khidmat dan Penuh Haru, Ribuan Jamaah Hadiri Haul Akbar Bujuk Makam Zimat Sayyid Husein Banyusangkah

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:39 WIB

Menakar Arah Gegeran NU 2026

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:10 WIB

Keberhasilan Dr. Naghfir Meraih Gelar Doktor Disambut Sukacita oleh Keluarga Besar MTA MAQOMAM MAHMUDA Batuan

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:10 WIB

Raih Gelar Doktor di UIN Malang, Dr. Naghfir Jadi Inspirasi Keluarga Besar Rumah Khotmil Qur’an Naghfir

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:05 WIB

Gelar Doktor untuk Dr. Naghfir: Kebanggaan Majelis Ratibul Haddad Naghfir dalam Mengabdi untuk Umat

Berita Terbaru

2