Oleh : Firman Syah Ali
Di ruang publik hari ini, suara-suara sumbang mengenai dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU), sebut saja gegeran NU 2026, sering kali terdengar begitu nyaring, bahkan terkadang mengandung sinisme. Berbagai spekulasi mengenai keretakan, perdebatan runcing, hingga fluktuasi gesekan antar-kubu, kerap dianggap sebagai tanda “gawat darurat” bagi organisasi.
Namun, jika kita menarik garis sejarah yang panjang, kita akan menemukan sebuah pola yang berulang (arketipe). NU adalah organisasi yang “hidup” justru karena ia terus-menerus berdialektika dalam keberagaman, perbedaan, pertentangan, bahkan pergelutan.
Sejarah mencatat, NU bukan organisasi monolitik. Ketegangan, perdebatan, dan silang pendapat adalah bahan bakar yang selama hampir satu abad menjaga NU tetap relevan.
TRADISI IKHTILAF
Sejak awal berdirinya, NU sudah dirancang di atas fondasi Ahlussunnah wal Jama’ah yang menghargai perbedaan pendapat (ikhtilaf). Mu’assisun menanamkan prinsip bahwa perbedaan pendapat di kalangan kiai bukanlah sebuah aib, melainkan kekayaan khazanah intelektual NU.
Ketika para pengurus, aktivis dan kader NU hari ini berselisih, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan tradisi perdebatan yang sudah diwariskan dari Taswirul Afkar hingga meja-meja Bahtsul Masail. Hanya saja, ketika perdebatan itu keluar dari ruang akademis, pindah gawang ke lapangan politik praktis, ia sering kali terlihat seperti perpecahan. Padahal, sejarah membuktikan bahwa friksi tersebut adalah mekanisme alamiah NU untuk menemukan titik keseimbangan baru.
Penulis : Cak Firman
Editor : Jagat Indonesia
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

