Sekda Sumenep & Misteri Huruf “R”

- Penulis

Jumat, 6 Februari 2026 - 02:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah Sekretaris Daerah Sumenep kerap bergerak dalam pola yang senyap tapi berulang. Dua tanda paling sering muncul: huruf “R” di depan nama dan identitas sebagai orang Sumenep asli.

Jika ditarik ke belakang, deretan nama Sekda memperlihatkan pola itu dengan cukup rapi:
R. Mansyur Tjiptopranoto, R. Moh Tahir P. Santoso, R. Abd. Kadir C. Wijaya, RA. Sasradiningrat, R. Abd. Rachem, R. Moh Samiodien BA, R. Moh Rifai, hingga pada fase lebih dekat publik sempat menoleh pada R. Idris. Zaman berbeda, rezim berganti, tapi satu tanda kecil kerap kembali.

Huruf “R” di sini bukan sekadar inisial. Ia sering dibaca sebagai simbol kesinambungan jejak bangsawan, memori kekuasaan lokal, sekaligus penanda kedekatan kultural dengan Sumenep. Dan menariknya, sebagian besar nama itu lahir dan besar dari rahim sosial Sumenep sendiri.

Di era kini, ketika gelar bangsawan tak lagi wajib dipajang, pola itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya bergeser. Konon, Edy Rasiadi pun memiliki garis keturunan yang sama, meski huruf “R” tak lagi ditampilkan di depan nama. Begitupun Plt Sekda Saat ini R. A. Syahwan Efendi, Seolah sejarah beradaptasi dengan zaman, tanpa melepaskan akarnya.

Karena itu, ketika bursa Sekda Sumenep 2026 kembali dibuka, bisik-bisik lama pun muncul lagi.

Bukan sekadar soal siapa paling berpengalaman, tapi siapa yang paling nyambung dengan pola lama.
Prediksi pun mengalir pelan:
Sekda Sumenep 2026 besar kemungkinan tetap tak jauh dari dua hal huruf “R” dan identitas orang Sumenep sendiri.

Tertulis atau tidak, formal atau tidak.
Ini tentu cocokologi. Namun di Sumenep, sejarah sering kali bekerja seperti itu:
diam-diam memilih yang terasa paling pas, lalu baru terlihat masuk akal setelah keputusan diumumkan.

Oleh ; R.Ar. Rusli

Penikmat sejarah dan narasi lokal Sumenep. Fokus pada pengamatan bagaimana nilai-nilai tradisional beradaptasi dalam ruang publik masa kini.
Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
Refleksi Delapan Dekade Bhayangkara Negara (REDEBHARA)
Menakar Arah Gegeran NU 2026
Fakta di Balik ‘Lempar Batu Sembunyi Tangan’ Eks Pengurus NU Kota Situbondo

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2