Oleh : Firman Syah Ali
Di atas hamparan sajadah, usai menikmati lezatnya tahajjud, di penghujung bulan Mei 2026, penulis berkontemplasi. Tentu saja bukan hanya tentang saldo rekening, jatuh tempo cicilan dan isi dompet di tanggal tua. Tapi tentang bulan Mei itu sendiri.
Bagi penulis, bulan Mei adalah bulan istimewa, karena selain bulan kelahiran penulis (tanggal 28), juga bulan kelahiran anak penulis, Brisca. Tentu saja banyak tokoh besar juga lahir pada bulan Mei, seperti Mahfud MD, Karl Marx, Rabindranath Tagore, Kaisar Justinianus, Mustafa Kemal Attaturk, Tsarina Chaterine The Great, George W Bush, Toni Blair, Jozip Broz Tito, Anies Baswedan, Harry S Truman, Henry Dunant, Louis Farrakhan, Cut Nyak Dhien, Jusuf Kalla, Ustad Abdul Somad, Ho Chi Minh, Malcolm X, Pol Pot, Queen Victoria, Ibnu Khaldun, Emha Ainun Najib, JF Kennedy dan lain-lainnya.
Namun yang lebih istimewa bagi penulis, tanggal 21 Mei adalah tanggal jatuhnya rezim diktator Orde Baru, 28 tahun yang lalu. Sebagai salah satu penyintas teror rezim kala itu, penulis punya ekspektasi besar terhadap jalannya reformasi.
Namun manusia boleh berharap, manusia boleh merencanakan, Tuhan yang menertawakan. Idealisme dan realitas tentang jalannya reformasi ternyata saling menertawakan. Terutama tentang teman-teman penulis Angkatan ’98 yang satu per satu menjadi pejabat publik dan satu per satu masuk penjara karena kasus korupsi.
Yang lebih lucu lagi, adik-adik mahasiswa zaman now, mungkin mereka telah kehilangan figur teladan dan figur pelopor, sehingga kehilangan orientasi tentang misi suci mahasiswa di muka bumi. Penulis melihat mereka bagaikan sekrup-sekrup pembangunan, bahkan sikapnya lebih PNS daripada PNS yang asli. Mereka kerjaannya setiap hari hanya memuja-muji pejabat di ruang-ruang publik, tanpa tau malu.
Mungkin Raul Prebisch, WW Rostow dan Calmers Johnson tertawa dari dalam kuburnya masing-masing, melihat developmentalisme Orde Baru ternyata semakin gagah di era reformasi, dan mahasiswa menjadi sekrup-sekrup didalamnya.
Ketika Angkatan ’98 telah kehilangan landasan ontologisnya, kehilangan raison d’etre, maka epistimologi gerakan lumpuh tanpa ampun. Elan vitalnya hilang. Menurut penulis, setidaknya ada beberapa penyebab lumpuhnya resiliensi gerakan mahasiswa.
Pertama, kehilangan “the common enemy” (musuh bersama). Selama Orde Baru, musuh bersamanya jelas, yaitu Presiden Soeharto, sehingga gerakan mahasiswa tidak terfragmentasi. Lha sekarang siapa musuh bersamanya, wong hampir semua pejabat dan tokoh sudah menjadi “Soeharto”.
Kedua, Kooptasi Senior. Berbeda dengan Orde Baru di mana senior-senior aktivis mahasiwa masih berada di luar mesin pembangunanisme, sekarang para senior dan sunior mahasiswa sudah masuk ke dalam mesin kekuasaan dan mesin pembangunan, otomatis adik-adiknya banyak yang terserap jadi sekrup untuk meneruskan estafet kepejabatan menterengnya.
Ketiga, Prekariat Ekonomi. Gen Z hidup dalam kecemasan konstan tentang masa depannya setelah lulus kuliah. Berbeda dengan tahun 1990-an, di mana jumlah sarjana masih sedikit, lulusan S1 masih dianggap elit. Sekarang terjadi oversuply sarjana, sehingga posisi tawar tenaga kerja menjadi lemah. Ijazah sarjana tidak lagi menjadi tiket masuk ke kelas menengah, tapi hanya tiket kecemasan baru. Maka mahasiswa cenderung pragmatis, dan memilih fokus akademik.
Keempat, Digital Sentris, Viral Based. Gerakan tergantung pada tren media sosial. Jika isu tidak lagi viral, maka gerakan auto-padam. Terlepas target gerakan sudah tercapai atau tidak.
Kelima, Politik Akademik. Regulasi akademik yang ketat sengaja disusun untuk melumpuhkan gerakan mahasiswa.
Masih banyak faktor lainnya, tapi setidaknya lima faktor itu yang paling mengemuka.
Untuk menghadapi kebekuan gerakan mahasiwa tersebut, kita harus melalukan kontra narasi terhadap pembangunanisme, agar tidak semakin banyak intelektukang baru di sekitar kita. Kita lakukan perang posisi ala Antonio Gramsci, dari sistem kita reposisi ke manusia. Dari rilis angka capaian, kita reposisi ke kondisi riil masyarakat. Bahasa dan istilah-istilah seperti inovasi, stabilitas dan daya saing, kita rebut, kita redefinisikan dan kita reposisikan.
Pedagogi partisipatif, interaktif dan kritis ala Paulo Freire hendaknya dirumuskan dalam regulasi akademik, agar gairah gerakan mahasiswa sebagai intelektual organik kembali hidup.
Untuk melawan prekaritas, aktivis mahasiswa harus mampu menciptakan ekosistem ekonomi kolektif (koperasi, social enterprise, atau communal space). Jika gerakan mahasiswa mandiri secara ekonomi, mereka tidak akan mudah dibeli atau dikooptasi, bahkan oleh seniornya sendiri.
Penulis : Cak Firman
Editor : Jagat Indonesia







