Sujud Terakhir di Balik Lumpur Bencana: Kesaksian Keagungan Hamba

- Penulis

Rabu, 3 Desember 2025 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Duka itu bernama longsor. Namun, di tengah puing dan kehancuran, seorang anak menemukan ibunya dalam posisi yang paling mulia: bersujud menghadap-Nya.

​Bukan sekadar kisah kehilangan, tetapi kesaksian agung tentang teguhnya sebuah iman. Pagi itu, saat banjir bandang dan longsor menghantam permukiman, seluruh dunia seolah runtuh. Bagi seorang anak, setiap detik adalah siksaan. Kabar duka yang samar tak bisa ditelan bulat-bulat, sehingga ia bergegas melakukan segala upaya.

​Demi mempercepat proses evakuasi yang terasa lambat, sang anak mengambil keputusan nekat—menyewa alat berat sendiri untuk membongkar timbunan lumpur dan puing, berusaha meraih jasad ibunya sesegera mungkin. Ini adalah bukti cinta dan kerinduan yang tak tertahankan.

Benteng Shalat di Tengah Air Bah

​Setelah berjuang melawan tumpukan material yang tebal dan bau lumpur sisa kehancuran, momen itu tiba.

​Jasad sang Ibu ditemukan. Ia tidak terbaring pasrah, apalagi dalam posisi panik. Jasadnya yang berbalut mukena putih, meski basah dan dipenuhi lumpur, tampak utuh dan tenang. Ia ditemukan dalam posisi paling agung bagi seorang hamba: sujud.

​Longsor itu datang saat ia berdiri di hadapan Tuhannya. Di saat yang lain berlari menyelamatkan diri dan harta, Ibu memilih untuk tetap teguh, menyambut maut di puncak ketaatan, di tengah heningnya Shalat.

“Tangan yang seharusnya memelukmu kini harus mengevakuasi jasadmu dari timbunan longsor. Di tengah puing-puing dan bau lumpur… aku menemukanmu, tidak terbaring, tetapi bersimpuh.”

Syahidah Sujud: Kehormatan di Atas Kehilangan

​Bagi sang anak, air mata yang mengalir bukan lagi air mata duka semata, tetapi air mata syukur dan penghormatan. Ibu telah pergi, bukan sebagai korban bencana biasa, melainkan sebagai Syahidah Sujud—wanita yang memilih Keagungan-Nya di atas segala kekacauan dunia.

Mukena yang basah dan berlumpur itu kini menjadi peninggalan. Dinginnya lumpur menyengat, tetapi jiwa sang anak merasakan kehangatan yang tak terperi. Kehilangan adalah duka mendalam, tetapi menyaksikan cara ibunya pergi adalah anugerah dan kehormatan dari Tuhan.

​Pesan keimanan yang ditinggalkan Ibu begitu abadi, terukir jelas dalam posisi jasadnya:

Shalat adalah benteng, bahkan saat takdir air bah menghantam.

“Pilihlah Allah, dan Dia akan memilihkan cara terbaik untuk menjemputmu.” Kalimat inilah yang kini menjadi penopang hidup sang anak. Ia pergi meninggalkan duka, tetapi mewariskan sebuah keyakinan: bahwa di saat terberat dan paling genting sekalipun, sujud adalah tempat berlindung yang paling aman.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang hakikat ketaatan sejati.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD
KECELAKAAN MAUT DI MARENGAN LAOK: SISWA SMPN 2 SUMENEP MENINGGAL DUNIA
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan
PEDAS! Putra Nelayan Pinggirpapas Dengan Tegas Meminta PT Garam Buka Data: “Kalau Berani, Libatkan Penegak Hukum dan Masyarakat!”

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2