Rumah Radio Bung Tomo yang Hilang: Merawat Ingatan yang Dirobohkan

- Penulis

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Pekik itu bukan sekadar gema masa lalu. Ia adalah denyut keberanian yang pernah menggetarkan Surabaya. Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Mawar No. 10, suara Bung Tomo mengalir melalui gelombang radio, membakar semangat rakyat dalam pusaran Pertempuran Surabaya. Di ruang itulah kata-kata berubah menjadi nyali, dan nyali menjelma menjadi perlawanan.

Bung Tomo tidak mengangkat senapan. Ia mengangkat kesadaran. Ia memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya soal strategi militer, tetapi soal keyakinan kolektif. Radio menjadi medium pembentuk identitas, penyatu ketakutan menjadi keberanian. Dari rumah itu, rakyat kecil merasa memiliki republik.

Kini rumah itu telah hilang. Rata dengan tanah. Di atasnya berdiri aktivitas usaha milik Jayanata. Fakta ini bukan sekadar perubahan fungsi lahan. Sebagaimana kami tegaskan dalam pernyataan sikap PAS Ngopi pada 26 Februari 2026. ini adalah penghapusan jejak memori kolektif. Sebuah ironi di Kota Pahlawan.

Kami memandang hilangnya Rumah Radio Bung Tomo sebagai kelalaian serius dalam perlindungan situs sejarah perjuangan bangsa . Komersialisasi ruang historis tanpa narasi pelestarian adalah pemutusan ingatan generasi muda terhadap akar keberanian bangsanya

Surabaya tidak boleh kehilangan titik-titik memori yang menjadi fondasi identitasnya

Dalam konteks ini, saya teringat pemikiran Pramoedya Ananta Toer, yang mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan keberanian berpikir. Pram percaya bahwa sejarah adalah cermin, dan tanpa cermin, manusia mudah kehilangan wajahnya sendiri. Menghapus jejak sejarah berarti mengaburkan arah masa depan.

Refleksi serupa juga disampaikan oleh Buya Hamka. Buya Hamka menekankan bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Dalam banyak tulisannya, ia mengingatkan bahwa umat yang tidak mau belajar dari perjalanan masa lalunya akan terjebak mengulang kesalahan yang sama. Sejarah, bagi Hamka, bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan sumber hikmah dan pembentuk akhlak bangsa. Tanpa kesadaran sejarah, pembangunan akan kehilangan nilai, dan kemajuan akan kehilangan arah moralnya.

Di sinilah persoalan Rumah Radio Bung Tomo menjadi lebih dari sekadar soal bangunan. Ia menyangkut karakter kota. Apakah kita ingin Surabaya tumbuh tinggi secara fisik, tetapi dangkal secara historis? Apakah nasionalisme cukup diperingati lewat seremoni 10 November, sementara lokasi yang melahirkan semangat itu lenyap tanpa memorial?

Kami tidak menolak pembangunan. Kami tidak anti-investasi. Kami menolak pembangunan yang menegasikan sejarah. Sebagaimana kami nyatakan, kemajuan tanpa memori adalah kemajuan yang rapuh . Modernitas seharusnya berdialog dengan sejarah, bukan menghapusnya.

Karena itu, sikap kami bukan sekadar keluhan, melainkan seruan konstruktif.

• Kami mendorong audit sejarah dan kebijakan atas hilangnya situs tersebut . Kami menyerukan penetapan resmi Jalan Mawar No. 10 sebagai titik cagar memori perjuangan, meskipun bangunan fisiknya telah tiada .

• Kami mengusulkan pembangunan penanda sejarah yang layak dan bermartabat—bahkan replikasi rumah radio beserta tetengernya—agar generasi mendatang memiliki ruang belajar kebangsaan .

• Kami juga mengusulkan dibuatnya patung Bung Tomo di fasilitas publik sekitar Jalan Mawar sebagai pengingat visual bahwa di tanah itu pernah berdiri keberanian .

• Lebih jauh, kami menuntut pelibatan komunitas sejarah dan masyarakat sipil dalam setiap kebijakan tata ruang yang menyentuh situs perjuangan. Sejarah bukan milik segelintir pejabat atau investor. Ia milik warga.

Pernyataan sikap itu kami bacakan di Taman Bungkul, depan Pesarean Sunan Bungkul, sebagai simbol bahwa refleksi sejarah harus dilakukan di ruang publik, di tengah masyarakat . Di sana kami menyadari: menjaga ingatan adalah bentuk tanggung jawab moral.

Jika dahulu suara radio Bung Tomo mengguncang penjajah, maka hari ini suara nurani warga Surabaya harus menggugah kesadaran pengambil kebijakan. Kita tidak sedang melawan investasi. Kita sedang melawan amnesia. Surabaya tidak boleh amnesia. Sebab ketika ingatan dirobohkan, yang runtuh bukan hanya bangunan—tetapi kesadaran dan karakter kita sebagai bangsa.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan
PEDAS! Putra Nelayan Pinggirpapas Dengan Tegas Meminta PT Garam Buka Data: “Kalau Berani, Libatkan Penegak Hukum dan Masyarakat!”

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2