Memaknai Perbedaan Lebaran: Warisan Harmoni dari Pelosok Sumenep

- Penulis

Jumat, 20 Maret 2026 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: R.Ar.Mohammad Rusli

SUMENEP – Idul Fitri selalu membawa cerita tentang kepulangan dan kemenangan. Namun, di balik riuhnya takbir, ada satu fenomena yang bagi sebagian orang dianggap sebagai “perdebatan,” namun bagi masyarakat Sumenep—khususnya di wilayah pedesaan—hal tersebut adalah bumbu kerukunan yang sudah mendarah daging: Perbedaan hari raya.

​Bagi masyarakat di Kecamatan Ganding, Pasongsongan, Rubaru, Ambunten, Lenteng, hingga Guluk-Guluk, merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan ketetapan Pemerintah bukanlah barang baru. Ini bukan soal pembangkangan, melainkan soal kepatuhan pada keyakinan lokal dan petunjuk guru atau kiai yang telah diwariskan turun-temurun sejak era Orde Baru hingga saat ini.

​Nostalgia di Desa Duko, Saya teringat sebuah memori manis di tahun 1990-an. Saat itu, saya yang tinggal di wilayah Kota Sumenep mengikuti ketetapan Pemerintah yang memutuskan Lebaran jatuh keesokan harinya. Bersama Bapak, saya mudik ke Desa Duko, Kecamatan Rubaru.

​Pagi-pagi sekali kami berangkat, mengira masih akan menjalankan ibadah puasa terakhir di kampung halaman. Namun, setibanya di rumah Bude (kakak perempuan Bapak), suasana sudah meriah. Aroma masakan khas lebaran menyerbak, dan wajah-wajah ceria menyambut kami dengan pelukan hangat. Ternyata, di sana sudah Lebaran!

​Tanpa rasa canggung atau perdebatan teologis yang rumit, kami pun langsung membatalkan puasa dan ikut larut dalam sukacita hari kemenangan. Di situlah saya belajar: Idul Fitri bukan sekadar soal tanggal di kalender, tapi soal kemantapan hati dan eratnya tali silaturahmi.

​Perbedaan yang Menguatkan dalam Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat Sumenep memiliki kedewasaan luar biasa dalam beragama. Perbedaan pandangan tidak lantas mengurangi rasa senang, apalagi memutus hubungan persaudaraan. Justru, perbedaan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah khazanah yang harus dijaga.

​Tradisi ater-ater (mengantar makanan) tetap berjalan, jabat tangan tetap erat, dan pintu rumah tetap terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang apakah mereka berlebaran hari ini atau esok.

​Di hari yang suci ini, mari kita jadikan perbedaan pandangan sebagai energi untuk saling menguatkan, bukan memperlemah. Mari kita lestarikan harmoni yang telah dicontohkan oleh para orang tua kita di desa-desa.

Minal Aidin Wal Faidzin. Taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbal yaa kariim.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan
PEDAS! Putra Nelayan Pinggirpapas Dengan Tegas Meminta PT Garam Buka Data: “Kalau Berani, Libatkan Penegak Hukum dan Masyarakat!”

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2