Feodalisme Berbaju Demokrasi (FEOKRASI)

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Firman Syah Ali

Akhir-akhir ini adegan menjijikkan semakin sering terjadi, yaitu jilatan terang-terangan yang
dilakukan oleh bawahan kepada atasannya di depan publik. Di depan kamera. Di corong media. Sangat tidak mendidik. Padahal politik itu pendidikan, kata Paulo Freire.

Ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih feodalistik, walaupun bajunya demokrasi dan meritokrasi.

Karakteristik masyarakat feodalistik bukan lagi sekedar monopoli tanah seperti abad pertengahan, melainkan mentalitas budaya yang meliputi sikap Asal Bapak Senang (ABS), pola interaksi Patron-Klien, kultur politik dinasti, budaya setor, mentalitas kepemimpinan like and dislike, inferiority complex pada bawahan, penghormatan dan pemujaan berbasis gelar dan jabatan, budaya mohon petunjuk dan mohon ijin, serta kepemimpinan anti-kritik.

Fenomena ini sering disebut oleh para sosiolog sebagai neo-feodalisme, di mana prosedur demokrasinya modern (seperti pemilu dan parpol), tetapi perilaku aktor dan masyarakatnya tetap feodal.

APA SEBAB?

Mesin utama penyebab neo-feodalisme tetap laku di Indonesia adalah lemahnya pendidikan politik dan kuatnya sisa kultur monarki absolut serta kolonialisme yang terus mereproduksi mentalitas feodal di Indonesia modern.

Sebelum menjadi republik demokrasi, Nusantara terdiri dari ratusan kerajaan dengan struktur kasta dan hierarki yang sangat kaku. Sisa kultur ini tidak hilang dengan proklamasi, melainkan bermutasi.

Dalam konsep monarki nusantara klasik, pemimpin dianggap sebagai pemegang wahyu atau titisan kekuasaan ilahi yang absolut, konsep itu kalau di Jawa disebut Dewa-raja dan Gung Binathara. Di era modern, kultur ini menjelma menjadi pengkultusan individu secara berlebihan terhadap ketua umum parpol atau tokoh politik tertentu, di mana titah mereka tidak boleh dibantah, mereka juga punya privilese untuk memimpin turun-temurun seperti raja klasik. Masih segendang sepenarian, penghormatan kepada yang lebih tua atau yang berkedudukan lebih tinggi dalam kultur tradisional sering kali disalahartikan. Kritik yang objektif dan rasional dianggap sebagai tindakan kurang ajar atau tidak sopan. Hal ini membuat bawahan atau rakyat atau junior memilih diam demi menjaga harmoni semu.

Pemerintah kolonial Belanda sengaja merawat dan menggunakan sistem feodal lokal untuk kepentingan mereka (Indirect Rule). Dampaknya masih terasa sangat kuat hari ini. Penjajah Belanda menempatkan pejabat pribumi (bupati/priyayi) sebagai kepanjangan tangan mereka untuk memeras rakyat. Lahirlah mentalitas Pangreh Praja (penguasa yang memerintah rakyat).
Hingga hari ini, reformasi birokrasi dan Zona Integritas (ZI) masih terganjal karena banyak oknum pejabat publik yang merasa diri mereka adalah Gusti (tuan) yang harus dilayani, dihormati secara berlebihan, dan diberi upeti (pungli/gratifikasi), bukannya bertindak sebagai pelayan masyarakat (civil servant).

Ketika sisa kultur monarki dan kolonialisme begitu kuat, satu-satunya cara mendobraknya adalah melalui pendidikan politik yang mencerdaskan. Sayangnya, jalur ini justru mandek. Partai politik modern di Indonesia mayoritas dikelola secara oligarkis dan berbasis dinasti, bukan secara demokratis dan meritokratis. Akibatnya, parpol tidak pernah memberikan pendidikan politik yang substantif kepada rakyat, melainkan hanya mendekati rakyat lima tahun sekali dengan mobilisasi massa dan politik uang.

Di bangku sekolah, pendidikan kewarganegaraan (seperti PPKn) cenderung hanya mengajarkan hafalan struktur tata negara dan kepatuhan formal, bukan mengajarkan cara berpikir kritis, cara berdebat yang sehat, atau bagaimana mengevaluasi kebijakan penguasa. Karena tidak dibekali pendidikan politik yang matang, masyarakat bawah gagal melihat pemilu sebagai kontrak sosial yang setara. Rakyat merasa di posisi yang inferior, mereka berutang budi jika diberi bantuan sosial atau uang serangan fajar, sehingga mereka kembali memosisikan politisi sebagai tuan penolong, bukan pegawai outsourcing yang mereka bayar lewat pajak.

Dalam hal ini, banyak institusi yang harus direformasi, namun yang paling utama adalah Partai Politik (Parpol). Mengubah mentalitas parpol jauh lebih rumit daripada mereformasi sekolah (Kemendikbudristek) atau birokrasi (Kemenpan-RB), karena Parpol adalah salah satu hulu kekuasaan yang terjebak dalam oligarki, kepemilikan privat turun temurun dan lingkaran setan politik berbiaya tinggi. Kondisi diperparah dengan tidak adanya sanksi yang tegas bagi Parpol yang gagal menjalankan fungsi pendidikan politik.

Facebook Comments Box

Penulis : Cak Firman

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD
Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 
Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior
KECELAKAAN MAUT DI MARENGAN LAOK: SISWA SMPN 2 SUMENEP MENINGGAL DUNIA
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Mendorong Pengelolaan Kawasan Tenurial Nelayan yang Adil, KNTI Sumenep Gelar Diskusi Kebijakan Bersama Pemkab dan DPRD

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:34 WIB

Alegori Ikan Busuk Mulai dari Kepala sebagai Diagnosis Patologi Hukum 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2