Santri Mbah Hasyim Asy’ari Makan Bersama

- Penulis

Sabtu, 7 Februari 2026 - 20:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rombongan PCNU Sumenep menuju Mujahadah Kubro Malang

Rombongan PCNU Sumenep menuju Mujahadah Kubro Malang

JAGATINDONESIA.COM, SAMPANG – Sore itu, Musholla Taddan Camplong Sampang tak hanya menjadi tempat singgah. Ia berubah menjadi ruang jeda—tempat tubuh beristirahat dan batin saling menyapa. Rombongan warga Nahdlatul Ulama dari Sumenep berhenti sejenak, Sabtu (7/2/2026), dalam perjalanan mujahadah kubro menuju Kota Malang.

Mereka datang sebagai jamaah Mujahadah Kubro. Datang tanpa gegap gempita. Tanpa spanduk. Tanpa protokol berlebihan. Hanya langkah-langkah lelah yang dituntun niat. Wakil Rais Syuriyah PCNU Sumenep, Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si., Ketua PCNU Sumenep, KH. Widadi Rahim turut mendampingi rombongan sore itu.

Setelah salat Asar berjamaah, suasana musholla kian hangat. Bukan karena lampu atau kipas angin. Tapi karena tikar digelar. Bungkusan dibuka. Nasi, lauk sederhana, sambal, dan kerupuk berpindah tangan. Makan bersama ala santri—ala pondok pesantren.

Tak ada katering. Tak ada menu seragam. Setiap orang membawa apa yang ada dari rumah. Ada yang berlebih, ada yang pas-pasan. Semua diletakkan di tengah. Tak ditanya siapa membawa apa. Tak dihitung siapa makan berapa.

“Begitulah kami diajari Mbah Hasyim,” kata Syaiful Harir—akrab disapa Aying—sambil tersenyum. “NU itu hidup dari silaturahim dan makan bersama.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Silaturahim merawat rasa saling percaya. Makan bersama meniadakan jarak. Keduanya, kata Aying, adalah energi terbarukan NU—yang tak tercatat dalam laporan, tapi bekerja diam-diam menggerakkan jam’iyyah.

Di tikar musholla Taddan, sore itu, duduk berdampingan para masyayikh, pengurus harian syuriyah dan tanfidziyah PCNU, pengurus harian MWC NU, dan jamaah biasa. Tak ada kursi khusus. Tak ada piring istimewa. Semua setara sebagai santri—santri Mbah Hasyim.

Mungkin inilah wajah NU yang jarang difoto. Tak spektakuler, tapi tahan lama. Tak viral, tapi mengakar.

“Sebab sebelum NU besar dalam jumlah, ia lebih dulu besar dalam kebersamaan. Dan sebungkus nasi—yang dimakan bersama—sering kali lebih kuat dari seribu pidato.” Pungkas Aying.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan
PEDAS! Putra Nelayan Pinggirpapas Dengan Tegas Meminta PT Garam Buka Data: “Kalau Berani, Libatkan Penegak Hukum dan Masyarakat!”
HEBOH! Tokoh Pemuda dan Advokat Bongkar Bantahan PT Garam: “Faktanya Tidak Sesuai, Justru Semakin Membuka Dugaan Perlakuan Khusus!”
Permohonan Kerja Sama Ditolak, Kelompok Nelayan Blokade Saluran Air Pegaraman 1 Sumenep

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:44 WIB

BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2