Bendung Lengkong atau Rolak Songo adalah infrastruktur penting yang sejak abad ke-19 berfungsi mengendalikan banjir, menahan luapan Sungai Brantas, serta menjaga pasokan irigasi di wilayah Mojokerto yang saat itu masih berada dalam Karesidenan Surabaya.
Dibangun oleh BOW, Lembaga Pekerjaan Umum Hindia Belanda
Bendung pertama dibangun pada 1857 oleh lembaga kolonial bernama BOW (Burgerlijke Openbare Werken).
BOW adalah instansi teknik milik pemerintah Hindia Belanda yang bertugas menangani pembangunan jalan, jembatan, bendungan, gedung pemerintahan, hingga saluran air. Fungsinya setara dengan Kementerian Pekerjaan Umum pada masa kini.
Proyek Bendung Lengkong dipimpin oleh Hendrik de Bruin, seorang eerste aanwezend ingenieur (insinyur utama) yang bertugas di Keresidenan Surabaya.

Pengaruh Besar Adipati Surabaya
Di balik kelancaran pembangunan, terdapat dukungan dan pengaruh politik dari Raden Ngabei Kromodjoyo Adinegoro II, Adipati Surabaya (±1831–1859).
Sebagai tokoh penting pemerintahan, ia menerima gelar kehormatan Kanjeng Gouverment dari VOC, gelar tinggi yang memberinya otoritas luas atas wilayah Jawa Timur, termasuk Mojokerto.
Selain sebagai pemimpin administratif, R. Kromodjoyo Adinegoro II dikenal alim, dekat dengan para ulama, dan pernah menjadi Imam Besar Masjid Sunan Ampel, menjadikannya sosok berwibawa di bidang pemerintahan maupun agama.
Pembangunan Ulang Tahun 1972
Karena bendung lama mulai tidak efisien, pemerintah Indonesia membangun ulang bendung baru pada 1972 melalui Kementerian PUTL RI di bawah pimpinan proyek Pramudo, dan diresmikan oleh Menteri PUTL Sutami.
Kini, Rolak Songo tetap menjadi benteng utama pencegah banjir, pengatur debit Brantas, serta simbol sejarah yang menghubungkan Mojokerto, Surabaya, dan tokoh-tokoh besar pada abad ke-19.












