Sekolah Hari Ini Terlalu Sibuk Saling Mengalahkan, Sampai Lupa Menyelamatkan Pendidikan.

- Penulis

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Agus Sugianto, S.Pd

Ada sesuatu yang diam-diam sedang rusak dalam dunia pendidikan kita.Sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat mencerdaskan anak bangsa, tetapi perlahan berubah menjadi arena persaingan yang melelahkan. Semua berlomba menjadi yang paling unggul, paling terkenal, paling viral, dan paling diminati. Spanduk penerimaan murid baru dipasang sebesar mungkin. Media sosial sekolah dipoles sedemikian rupa. Prestasi dipamerkan setiap hari. Semua sibuk membangun citra.

Sayangnya, di balik gegap gempita itu, muncul satu penyakit yang makin mengkhawatirkan: egoisme lembaga pendidikan. Hari ini kita melihat,terlalu banyak sekolah yang merasa sukses hanya karena dirinya maju sendirian.Padahal pendidikan tidak pernah dirancang untuk melahirkan “pemenang tunggal”.

Ironisnya, semakin keras sekolah berlomba menjadi “favorit”, semakin banyak sekolah kecil di desa-desa yang perlahan kehilangan napas. Murid berkurang. Kepercayaan masyarakat melemah. Kegiatan bagus tidak pernah diketahui publik karena tidak punya akses dan kekuatan publikasi.Dan yang paling menyedihkan, sesama lembaga pendidikan sering kali hanya saling menonton. Tidak sedikit yang diam-diam merasa senang ketika sekolah lain merosot. Ada kebanggaan tersembunyi saat menjadi satu-satunya yang dianggap unggul.Inilah wajah pendidikan yang mulai kehilangan hati nuraninya.

Padahal, pendidikan bukan bisnis dagang yang harus saling mematikan agar bertahan hidup. Pendidikan adalah kerja peradaban.Kalau satu sekolah tertinggal, sebenarnya yang gagal bukan hanya sekolah itu,tetapi ekosistem pendidikan secara keseluruhan. Kita terlalu lama memelihara budaya “obor besar”. Semua ingin menjadi pusat perhatian. Semua ingin menjadi sekolah paling terang. Semua ingin dipuji sebagai yang terbaik.

Tetapi kita lupa satu hal penting:

Indonesia tidak dibangun oleh satu cahaya besar saja.Negeri ini berdiri karena jutaan “lilin kecil” di kampung-kampung, di sekolah pelosok, di ruang kelas sederhana yang sering luput dari sorotan.Masalahnya, lilin-lilin kecil itu kini banyak yang dibiarkan redup sendirian.Mereka kalah fasilitas,Kalah jaringan,Kalah publikasi,Kalah pengaruh.Bahkan terkadang kalah hanya karena tidak punya kemampuan pencitraan.Padahal bisa jadi, semangat mengajarnya jauh lebih tulus dibanding sekolah-sekolah besar yang sibuk mengejar gengsi.

Karena itu, dunia pendidikan sebenarnya sedang membutuhkan revolusi cara berpikir.Sekolah tidak boleh lagi hanya sibuk bertanya:

“Bagaimana sekolah saya menjadi paling unggul?”. Tetapi harus mulai bertanya:

“Bagaimana semua sekolah bisa maju bersama?” Inilah yang selama ini hilang: semangat kolaborasi.

Bayangkan jika sekolah-sekolah saling membantu publikasi kegiatan dan praktik baik yang dilaksanakan sekolah lain.Saling berbagi strategi pembelajaran. Saling menguatkan administrasi. Saling mendukung program literasi. Saling menghidupkan kegiatan budaya dan karakter. Maka pendidikan akan tumbuh sebagai gerakan bersama, bukan arena saling menjatuhkan. Sayangnya, mental seperti ini masih langka.

 

Kita hidup di zaman ketika banyak orang takut melihat orang lain ikut bersinar. Seolah-olah keberhasilan pihak lain adalah ancaman bagi dirinya sendiri. Padahal cahaya tidak bekerja seperti itu. Lilin tidak akan kehilangan apinya hanya karena menyalakan lilin lain. Justru semakin banyak lilin menyala, semakin terang keadaan.

Dan mungkin inilah pelajaran paling penting yang mulai dilupakan dunia pendidikan kita:

bahwa tugas pendidik bukan menjadi cahaya paling hebat sendirian, tetapi memastikan tidak ada cahaya lain yang padam dalam kesunyian. Karena sekolah yang benar-benar besar bukan sekolah yang berdiri paling tinggi di atas sekolah lain. Melainkan sekolah yang tetap mau menggandeng yang kecil agar tumbuh bersama.

Sudah saatnya pendidikan berhenti dipenuhi kompetisi egois yang hanya melahirkan kesenjangan. Sudah waktunya sekolah-sekolah saling menghidupkan, bukan saling menyingkirkan. Sebab masa depan bangsa tidak akan diselamatkan oleh satu sekolah elite saja.

Tetapi oleh ribuan sekolah kecil yang tetap dijaga nyalanya bersama-sama.

Facebook Comments Box

Penulis : Agus Sugiyanto

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Momentum Idul Adha, WKB Politik & Reformasi Sistem Hukum Nasional PDIP Sumenep Pererat Kebersamaan
Sinergi Warga Desa Ganting Sidoarjo: Mushola Illiyin Sembelih 2 Sapi dan 3 Kambing pada Idul Adha
Jalankan Amanah MH Said Abdullah, PAC Kota Sumenep Tebar Hewan Kurban di Hari Idul Adha
Meneladani Idul Adha: Menolak Kurban Hak Rakyat atas Nama Kekuasaan
INFLASI DEMAGOG
Parsanga, Tanah Keraton Siding Puri yang Kini Diperebutkan Zaman
Profil Pesantren Tahfidzul Qur’an Abdul Qodir: Merajut Sanad, Mencetak Generasi Penjaga Kalam Ilahi
Mengharap Kebangkitan Rupiah di Hari Kebangkitan Nasional

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:57 WIB

Sekolah Hari Ini Terlalu Sibuk Saling Mengalahkan, Sampai Lupa Menyelamatkan Pendidikan.

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:39 WIB

Momentum Idul Adha, WKB Politik & Reformasi Sistem Hukum Nasional PDIP Sumenep Pererat Kebersamaan

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:14 WIB

Sinergi Warga Desa Ganting Sidoarjo: Mushola Illiyin Sembelih 2 Sapi dan 3 Kambing pada Idul Adha

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:34 WIB

Meneladani Idul Adha: Menolak Kurban Hak Rakyat atas Nama Kekuasaan

Senin, 25 Mei 2026 - 08:00 WIB

INFLASI DEMAGOG

Berita Terbaru

2