ROLAK SONGO: BENDUNGAN PENYELAMAT BANJIR DAN JEJAK ADIPATI SURABAYA

- Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendung Lengkong atau Rolak Songo adalah infrastruktur penting yang sejak abad ke-19 berfungsi mengendalikan banjir, menahan luapan Sungai Brantas, serta menjaga pasokan irigasi di wilayah Mojokerto yang saat itu masih berada dalam Karesidenan Surabaya.

 

Dibangun oleh BOW, Lembaga Pekerjaan Umum Hindia Belanda

Bendung pertama dibangun pada 1857 oleh lembaga kolonial bernama BOW (Burgerlijke Openbare Werken).

BOW adalah instansi teknik milik pemerintah Hindia Belanda yang bertugas menangani pembangunan jalan, jembatan, bendungan, gedung pemerintahan, hingga saluran air. Fungsinya setara dengan Kementerian Pekerjaan Umum pada masa kini.

Proyek Bendung Lengkong dipimpin oleh Hendrik de Bruin, seorang eerste aanwezend ingenieur (insinyur utama) yang bertugas di Keresidenan Surabaya.

Tampak Bendung Lengkong atau Rolak Songo

Pengaruh Besar Adipati Surabaya

Di balik kelancaran pembangunan, terdapat dukungan dan pengaruh politik dari Raden Ngabei Kromodjoyo Adinegoro II, Adipati Surabaya (±1831–1859).

Sebagai tokoh penting pemerintahan, ia menerima gelar kehormatan Kanjeng Gouverment dari VOC, gelar tinggi yang memberinya otoritas luas atas wilayah Jawa Timur, termasuk Mojokerto.

Selain sebagai pemimpin administratif, R. Kromodjoyo Adinegoro II dikenal alim, dekat dengan para ulama, dan pernah menjadi Imam Besar Masjid Sunan Ampel, menjadikannya sosok berwibawa di bidang pemerintahan maupun agama.

 

Pembangunan Ulang Tahun 1972

Karena bendung lama mulai tidak efisien, pemerintah Indonesia membangun ulang bendung baru pada 1972 melalui Kementerian PUTL RI di bawah pimpinan proyek Pramudo, dan diresmikan oleh Menteri PUTL Sutami.

Kini, Rolak Songo tetap menjadi benteng utama pencegah banjir, pengatur debit Brantas, serta simbol sejarah yang menghubungkan Mojokerto, Surabaya, dan tokoh-tokoh besar pada abad ke-19.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan
Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara
Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026
BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan
PEDAS! Putra Nelayan Pinggirpapas Dengan Tegas Meminta PT Garam Buka Data: “Kalau Berani, Libatkan Penegak Hukum dan Masyarakat!”
HEBOH! Tokoh Pemuda dan Advokat Bongkar Bantahan PT Garam: “Faktanya Tidak Sesuai, Justru Semakin Membuka Dugaan Perlakuan Khusus!”
Permohonan Kerja Sama Ditolak, Kelompok Nelayan Blokade Saluran Air Pegaraman 1 Sumenep

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:07 WIB

Bupati Pamekasan Ucapkan Selamat Datang kepada Jamaah Haul Akbar Agung Toronan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:08 WIB

Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

Gema Spiritual Haul Akbar Bhuju’ Agung Toronan 13 Agustus 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:44 WIB

BWI Sumenep Serahkan Sertifikat Wakaf Masjid Gemma Prenduan, Sekjen Naghfir Siapkan Roadshow Pembinaan Nadzir Kecamatan

Berita Terbaru

Artikel

Manaqib Singkat Agung Toronan, Datuk Ulama-Umara Nusantara

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:54 WIB

Opini

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:00 WIB

2