JAGATINDONESIA.COM, SAMPANG – Sore itu, Musholla Taddan Camplong Sampang tak hanya menjadi tempat singgah. Ia berubah menjadi ruang jeda—tempat tubuh beristirahat dan batin saling menyapa. Rombongan warga Nahdlatul Ulama dari Sumenep berhenti sejenak, Sabtu (7/2/2026), dalam perjalanan mujahadah kubro menuju Kota Malang.
Mereka datang sebagai jamaah Mujahadah Kubro. Datang tanpa gegap gempita. Tanpa spanduk. Tanpa protokol berlebihan. Hanya langkah-langkah lelah yang dituntun niat. Wakil Rais Syuriyah PCNU Sumenep, Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si., Ketua PCNU Sumenep, KH. Widadi Rahim turut mendampingi rombongan sore itu.
Setelah salat Asar berjamaah, suasana musholla kian hangat. Bukan karena lampu atau kipas angin. Tapi karena tikar digelar. Bungkusan dibuka. Nasi, lauk sederhana, sambal, dan kerupuk berpindah tangan. Makan bersama ala santri—ala pondok pesantren.
Tak ada katering. Tak ada menu seragam. Setiap orang membawa apa yang ada dari rumah. Ada yang berlebih, ada yang pas-pasan. Semua diletakkan di tengah. Tak ditanya siapa membawa apa. Tak dihitung siapa makan berapa.
“Begitulah kami diajari Mbah Hasyim,” kata Syaiful Harir—akrab disapa Aying—sambil tersenyum. “NU itu hidup dari silaturahim dan makan bersama.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Silaturahim merawat rasa saling percaya. Makan bersama meniadakan jarak. Keduanya, kata Aying, adalah energi terbarukan NU—yang tak tercatat dalam laporan, tapi bekerja diam-diam menggerakkan jam’iyyah.
Di tikar musholla Taddan, sore itu, duduk berdampingan para masyayikh, pengurus harian syuriyah dan tanfidziyah PCNU, pengurus harian MWC NU, dan jamaah biasa. Tak ada kursi khusus. Tak ada piring istimewa. Semua setara sebagai santri—santri Mbah Hasyim.
Mungkin inilah wajah NU yang jarang difoto. Tak spektakuler, tapi tahan lama. Tak viral, tapi mengakar.
“Sebab sebelum NU besar dalam jumlah, ia lebih dulu besar dalam kebersamaan. Dan sebungkus nasi—yang dimakan bersama—sering kali lebih kuat dari seribu pidato.” Pungkas Aying.








