Untuk benar-benar mewujudkan kedaulatan tersebut, kita membutuhkan lompatan paradigma dari “bangga memakai produk lokal” menjadi “bangga memajukan ekosistem lokal.” Solusi nyata dimulai dari keberanian pemerintah dan sektor swasta untuk menekan biaya logistik dan mempercepat digitalisasi UMKM agar harga barang lokal kita kompetitif dengan barang impor. Di sisi lain, kita sebagai konsumen perlu mulai kritis, apakah pengeluaran kita hari ini berkontribusi pada penguatan ekonomi domestik, atau justru menjadi peluru bagi mata uang asing? Inovasi di sektor ekonomi kreatif yang didorong oleh kebijakan berbasis riset dan pro-daya saing akan menjadi kunci. Ketika produk kita memiliki nilai tambah tinggi, maka dengan sendirinya Rupiah tidak perlu diminta untuk gagah; ia akan gagah dan tampan dengan sendirinya karena dunia membutuhkan apa yang kita hasilkan.
Sebagai penutup, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini harus kita maknai bukan sebagai rutinitas seremonial tahunan yang membosankan, melainkan sebagai momentum evaluasi diri yang jujur dan jernih. Jika Budi Utomo berhasil menggalang persatuan melalui pergerakan kebangsaan, maka saat ini kita dipanggil untuk menggalang persatuan melalui pergerakan ekonomi. Mari jadikan 20 Mei bukan hanya sekadar catatan sejarah di kalender, atau sekedar membacakan berpidato di atas mimbar upacara, tetapi hari di mana kita menetapkan standar baru bahwa kedaulatan bangsa adalah harga mati yang tercermin dalam nilai tukar Rupiah. Sudah saatnya kita berhenti berharap pada keajaiban pasar, dan mulai membangun kebangkitan itu dengan tangan kita sendiri. Selamat Hari Kebangkitan Nasional, saatnya Rupiah kembali berdaulat, saatnya kita tegak berdiri sebagai bangsa yang mandiri.
Halaman : 1 2








