Jejak Nama Raba dan Hijrahnya Kiai Abdurrahman

- Penulis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi Kiyai Abdurrahman dari Sumenep ke Pamekasan

Gambar Ilustrasi Kiyai Abdurrahman dari Sumenep ke Pamekasan

Oleh : R.Mas Arya M. Rusli

Nama sebuah tempat sering kali bukan sekadar tanda di peta, melainkan simbol sejarah, identitas, dan perjalanan spiritual tokoh besarnya. Kisah inilah yang melekat erat pada penamaan Raba, sebuah nama yang merajut erat dua wilayah di Pulau Madura: Sumenep dan Pamekasan.

Akar Sejarah dari Sendir yang secara historis dan geografis, asal-usul nama Raba sejatinya memang berakar kuat di Sendir, Sumenep. Jika ditinjau dari karakteristik wilayahnya, nama “Raba” (yang kerap dikaitkan dengan kondisi alam seperti rawa atau lahan basah) sangat selaras dan cocok dengan kondisi topografi lokal Sendir di masa lalu. Di sinilah kisah ini bermula, tempat di mana Kiai Abdurrahman mula-mula tinggal dan mengasuh masyarakat.

Peta sejarah kemudian bergerak ketika Kiai Abdurrahman memutuskan untuk berhijrah dan menetap di kawasan Pademawu, Pamekasan. Perpindahan seorang ulama besar tentu membawa pengaruh yang luar biasa. Kiai Abdurrahman tidak hanya membawa raga dan syiar agamanya, tetapi secara kultural ia juga “membawa” nama Raba dari tanah asalnya ke tempat tinggalnya yang baru.

Lambat laun, masyarakat dan santri setempat mulai mengidentifikasi daerah baru tersebut dengan nama tanah asal sang kiai. Sepeninggal Kiai Abdurrahman, penghormatan masyarakat terhadap beliau membuat nama Raba secara permanen dinisbatkan dan melekat pada tempat tersebut hingga hari ini.

Sebagian catatan Manuskrip Toronan 1700an

Keunikan Geografis yang Menjadi Bukti Tutur, ada satu anomali menarik jika kita bersandar pada logika geografi murni. Wilayah di sekitar Asta (Makam) Kiai Abdurrahman Raba di Pademawu, Pamekasan, sebenarnya jauh dari karakteristik rawa-rawa atau lahan basah. Secara logika alam, nama tersebut kurang cocok dengan kondisi fisiknya.

Namun, justru di situlah letak keindahan sejarahnya. Ketidakcocokan geografis ini menjadi bukti autentik yang menguatkan sejarah tutur di atas: bahwa nama Raba di Pamekasan bukan lahir dari kondisi alamnya, melainkan murni karena faktor historis—sebuah warisan nama yang dibawa langsung oleh Kiai Abdurrahman sebagai memori kolektif dari Sendir, Sumenep.

Catatan ini merupakan bagian dari upaya merawat khazanah sejarah lokal dan silsilah para sepuh. Tentu, dalam penelusuran sejarah tutur, ruang dialektika selalu terbuka. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kekeliruan, ketidaksesuaian, atau perbedaan versi dalam penyampaian sekelumit kisah ini.

Sumber Data:

Disampaikan oleh R. Mas Abdul Hamid Roqib Suryodirjo di kediaman beliau, Palalang, Pamekasan.

Berdasarkan catatan Manuskrip Toronan yang ditulis sekitar tahun 1700-an M.

Facebook Comments Box

Penulis : R.Arya M. Rusli

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Mahasiswa Menjadi Sekrup Pembangunan
Sekolah Hari Ini Terlalu Sibuk Saling Mengalahkan, Sampai Lupa Menyelamatkan Pendidikan.
Momentum Idul Adha, WKB Politik & Reformasi Sistem Hukum Nasional PDIP Sumenep Pererat Kebersamaan
Sentuh Hati Guru Ngaji dan Wong Cilik, BSN Hidupkan Semangat Kurban
Sinergi Warga Desa Ganting Sidoarjo: Mushola Illiyin Sembelih 2 Sapi dan 3 Kambing pada Idul Adha
Jalankan Amanah MH Said Abdullah, PAC Kota Sumenep Tebar Hewan Kurban di Hari Idul Adha
Meneladani Idul Adha: Menolak Kurban Hak Rakyat atas Nama Kekuasaan
Parsanga, Tanah Keraton Siding Puri yang Kini Diperebutkan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:33 WIB

Jejak Nama Raba dan Hijrahnya Kiai Abdurrahman

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:07 WIB

Ketika Mahasiswa Menjadi Sekrup Pembangunan

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:57 WIB

Sekolah Hari Ini Terlalu Sibuk Saling Mengalahkan, Sampai Lupa Menyelamatkan Pendidikan.

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:39 WIB

Momentum Idul Adha, WKB Politik & Reformasi Sistem Hukum Nasional PDIP Sumenep Pererat Kebersamaan

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:14 WIB

Sinergi Warga Desa Ganting Sidoarjo: Mushola Illiyin Sembelih 2 Sapi dan 3 Kambing pada Idul Adha

Berita Terbaru

Gambar Ilustrasi Kiyai Abdurrahman dari Sumenep ke Pamekasan

Artikel

Jejak Nama Raba dan Hijrahnya Kiai Abdurrahman

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:33 WIB

Artikel

Ketika Mahasiswa Menjadi Sekrup Pembangunan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:07 WIB

2