Nama Batuampar di Sumenep, Madura, telah lama dikenal sebagai tanah keramat yang melahirkan poros ulama dan waliyullah besar. Dalam ingatan kolektif masyarakat, figur Kyai Abdullah bin Abdul Qidam kerap diposisikan sebagai tokoh tunggal yang membuka gerbang spiritualitas wilayah tersebut. Namun, jika kita mau menyelami lembar-lembar manuskrip kuno yang merapuh dan membaca situs arkeologis di lapangan, kita akan menemukan sebuah narasi lain: ada sejarah yang sengaja atau tidak sengaja “terlewatkan”.
Teka-Teki Manuskrip Kyai Lèmbhung
Salah satu simpul misteri yang paling menarik bersumber dari catatan manuskrip Kyai Lèmbhung.
Dalam dokumen silsilah kuno tersebut, disebutkan bahwa setelah pernikahan pertamanya, Kyai Lèmbhung menikah lagi dan dikaruniai seorang putra yang berada di Batuampar, Sumenep.
Pertanyaannya: siapakah putra yang dimaksud?
Arus utama sejarah lisan sering kali langsung menunjuk Kyai Banyukalong (Kyai Khatib). Namun, benarkah demikian?
Jika kita melakukan kritik teks terhadap manuskrip tersebut, muncul indikasi kuat bahwa tokoh yang dimaksud bukanlah Kyai Banyukalong.
Jika hipotesis ini benar, maka kita sedang berhadapan dengan sosok the missing link—seorang putra dari pernikahan kedua Kyai Lèmbhung yang menjadi pionir awal di tanah Sumenep, jauh sebelum tokoh-tokoh besar lainnya tercatat oleh zaman.
Pèrèngan: Dukuh Kuno Sebelum Kedatangan Sang Wali
Kekeliruan yang sering terjadi dalam penulisan sejarah lokal adalah menyamakan tokoh yang membesarkan sebuah wilayah dengan tokoh yang pertama kali melakukan babad alas (membuka lahan). Kasus ini terjadi di Batuampar. Kyai Abdullah sangat mungkin bukanlah orang pertama yang bermukim di sana.
Bukti otentik ini tersebar di wilayah Pèrèngan, Batuampar. Di sana, selain pusara Nyai Kursi, bertebaran makam-makam kuno tanpa nama yang usianya ditengarai lebih tua dari era Kyai Abdullah. Siapa mereka? Mereka adalah komunitas awal perintis sunyi.
Petunjuk genealogis yang mengunci kebenaran ini ada pada sosok Kyai Bandungan, anak tertua dari Kyai Enthol Bungso. Berdasarkan kronologi waktu, sebelum mempersunting Nyai Nuriam, Kyai Enthol Bungso telah lebih dahulu menikah dengan Nyai Kursi. Dari pernikahan awal inilah lahir Kyai Bandungan.
Artinya, wilayah Pèrèngan secara teritorial dan kultural sudah dihuni oleh garis keturunan Nyai Kursi dan Kyai Enthol Bungso. Kyai Abdullah tidak datang ke tanah kosong, melainkan meneruskan estafet sebuah dukuh yang spiritualitasnya telah dirawat oleh para pendahulu.
Logika Demografi: Menakar Posisi Dua Nyai
Hubungan Kyai Abdullah dengan jaringan ulama sepuh Madura diikat oleh sistem yang dalam bahasa lokal disebut èkamantoh (dijadikan menantu). Lebih spesifik lagi, beliau adalah manto kompoy atau cucu menantu dari gurunya sendiri, Kyai Lèmbhung.
Namun, perdebatan sengit sering terjadi saat menentukan kronologi domestik: siapakah istri pertama Kyai Abdullah yang sesungguhnya? Apakah Nyai Nuriam atau Nyai Kursi?
Catatan arus utama kerap menempatkan Nyai Nuriam di posisi pertama. Namun, jika kita menggunakan pendekatan sosiologis dan logika demografi keluarga kuno, sebuah tesis baru muncul. Mari kita lihat data jumlah anak: pernikahan dengan Nyai Kursi mengaruniai 6 orang anak, sementara dengan Nyai Nuriam mengaruniai 3 orang anak.
Dalam pola pernikahan tradisional, ada kecenderungan biologis yang konsisten: jumlah anak terbanyak biasanya lahir dari istri pertama karena rentang waktu usia produktif kebersamaan yang jauh lebih panjang. Dengan jumlah keturunan mencapai dua kali lipat, secara logika sejarah, Nyai Kursi-lah yang mendampingi Kyai Abdullah sejak masa-masa awal prihatin dan merintis dakwah, sebelum Nyai Nuriam melengkapi perjuangan tersebut di fase berikutnya.
Penutup: Mengembalikan Hak Sejarah
Membaca ulang silsilah Batuampar bukan bertujuan untuk meruntuhkan rasa hormat pada ketokohan yang sudah mapan. Sebaliknya, ini adalah ikhtiar untuk menghidupkan kembali nama-nama para perintis yang jasanya terubur oleh waktu. Melalui manuskrip Kyai Lèmbhung dan nisan-nisan tua di Pèrèngan, kita diajak untuk melihat bahwa sejarah Madura dibangun oleh jaringan spiritual yang amat rapi, berlapis, dan penuh dengan pengorbanan para tokoh sepuh yang jalurnya harus terus kita lacak kebenarannya.
Penulis : R.Mas Hamid/R.Arya M. Rusli
Editor : R.Arya M. Rusli







