Di penghujung tahun, saat daun-daun kebijaksanaan mulai gugur dan digantikan tunas harapan, Kabupaten Sumenep kembali diselimuti aura sakral. Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) telah tiba di ambang pintu, sebuah hajat besar yang bukan sekadar memilih pemimpin, melainkan merajut kembali benang-benang khidmah, mengukuhkan janji pada jam’iyah dan jamaah.
Dalam pekan yang penuh antisipasi ini, udara terasa sarat dengan doa dan bisik-bisik harapan dari para sahabat MWC NU Sumenep di berbagai penjuru. Mereka adalah akar rumput, mata air yang terus menghidupi organisasi. Harapan itu sederhana, namun mengandung makna yang dalam: Akankah ada kejutan?
Tentu, dalam setiap forum permusyawaratan tertinggi, kejutan adalah bumbu manis yang selalu dinantikan. Ia bisa berupa munculnya sosok “kuda hitam” yang selama ini diam-diam menanam amal, atau justru kehangatan aklamasi yang menyatukan semua hati tanpa perlu kontestasi yang melelahkan. Kejutan itu tak melulu tentang nama, tapi tentang semangat baru, visi yang lebih segar, dan keberanian untuk melangkah ke medan dakwah yang kian menantang.
Namun, kejutan paling hakiki bukanlah tentang dinamika politik internal, melainkan tentang terwujudnya sosok Ketua Tanfidziyah yang benar-benar ‘diharapkan’.
Sosok itu, bukan hanya yang pandai beretorika di atas podium,
melainkan yang tangannya sigap menyentuh lumpur permasalahan umat.
Bukan sekadar ahli dalam administrasi organisasi,
tapi juga pewaris sejati sanad keilmuan para muassis.
Dialah nakhoda yang berani membawa bahtera NU Sumenep
Melintasi badai zaman, tanpa melupakan kompas kearifan lokal.
Suara dari MWC dibawah PCNU Sumenep, yang merupakan tiang penyangga organisasi di kecamatan, adalah cerminan dari hati nurani warga Nahdliyin. Mereka merindukan pemimpin yang merakyat, yang hadir dalam setiap suka dan duka, serta yang mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur NU menjadi aksi nyata yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup pesantren dan masyarakat.
Biarlah misteri ini tetap menjadi rahasia indah hingga palu sidang Konfercab NU Kabupaten Sumenep diketuk. Sebab, dalam ketidakpastian itulah tersimpan keindahan tawakal dan ikhtiar. Mari kita sambut Konfercab ini dengan aman, nyaman, dan bijak. Percayalah, bahwa Allah SWT, melalui tangan para kiai dan tokoh yang memegang amanah, akan menuntun pilihan terbaik bagi masa depan NU Sumenep.
Doa kita: Semoga terpilihnya pemimpin baru adalah awal dari babak baru yang penuh berkah, di mana khidmah menjadi napas, dan persatuan adalah kekuatan yang tak terpecahkan.












