Ruang Gelap Kekuasaan dan Arah Baru Prabowo || Tanggapan atas Tulisan M. Isa Anshori

Tanggapan atas Tulisan M. Isa Anshori

Surabaya, 17 Nopember 2025

Slamet Sugianto

Presiden Pusat Kajian Analisis Data (PKAD)

Dalam politik Indonesia, tidak semua yang paling menentukan terjadi di ruang terang. Sebagaimana disinggung Clifford Geertz, negara seringkali tampil sebagai sebuah theatre state—kekuasaan dipentaskan melalui gestur, simbol, dan ritual sosial. Kenneth Beatty menambahkan bahwa politik Indonesia dibangun di atas manajemen rasa: rasa aman, rasa takut, dan rasa sungkan. Niels Mulder menyebutnya ruang batin sosial—ranah di mana harmoni dipertunjukkan, tetapi pertarungan sesungguhnya terjadi.

Dalam lanskap ini, relasi Jokowi–Gibran–Prabowo berdiri sebagai ruang gelap paling menentukan hari ini. Ruang gelap bukan berarti konspirasi, melainkan wilayah tak terucap dalam politik: isyarat, patronase, jejaring, dan kesepakatan senyap yang mengarahkan struktur kekuasaan tanpa harus diumumkan.

Tulisan M. Isa Anshori memberi konstruksi antropologis pada ruang gelap itu. Namun untuk menangkap dinamika kekuasaan hari ini secara utuh, diperlukan pembacaan yang menyatukan analisis antropologis tersebut dengan data aktual, empiris, dan politik kontemporer. Ketika dua perspektif ini disatukan, tampak jelas bahwa ruang gelap bukan hanya melahirkan keberlanjutan kekuasaan, tetapi juga memicu kontestasi baru—dan membuka kemungkinan bagi Prabowo membangun arah baru yang otonom.

Politik Perlindungan Jokowi dan Faktor Gibran

Data KPU 2024 mencatat pasangan Prabowo–Gibran memenangkan Pilpres dengan 58,59% suara—kemenangan elektoral terbesar sejak 2004¹. Keberhasilan itu tidak dapat dilepaskan dari “Jokowi Effect”, sebagaimana ditunjukkan riset The Jokowi Effect during Indonesia’s 2024 Presidential Election² yang menemukan pengaruh signifikan kepuasan terhadap Jokowi terhadap pilihan pemilih kepada Prabowo–Gibran.

Gibran, sebagai putra Jokowi, menjadi representasi paling konkret dari patronal continuity. Bloomberg menilai posisi Gibran berpotensi menjadikan Jokowi tetap berpengaruh bahkan setelah tidak menjabat³. Reuters mencatat bahwa langkah Jokowi dan Gibran keluar dari PDIP demi mendukung Prabowo menunjukkan reposisi politik yang tegas⁴.

Namun, kontinuitas itu memunculkan resistensi publik. Survei Unpad menunjukkan 65,15% publik menilai pencalonan Gibran sebagai bentuk nepotisme⁵. UNNES mencatat framing media terhadap “dinasti politik Jokowi” mayoritas bernada negatif⁶. Sementara itu, Al Jazeera mencatat skeptisisme publik terkait kapasitas dan usia Gibran⁷.

Semua ini menegaskan tesis Isa Anshori: Jokowi bergerak dengan “politik kehati-hatian” dan proteksi simbolik terhadap Gibran. Namun data juga menunjukkan bahwa proteksi itu menciptakan tekanan legitimasi, sebuah ketegangan yang terus mengikuti pemerintahan Prabowo.

Prabowo dan Politik Pengambil-Alihan

Prabowo memasuki pemerintahan bukan dengan menolak warisan Jokowi, tetapi mengadopsi dan mengelolanya. Pola ini sejalan dengan konsep antropologis ngemban dawn: mengambil beban pendahulu demi menjaga harmoni.

Instruksi Presiden No. 1/2025 menetapkan pemotongan belanja negara non-prioritas Rp 306,6 triliun untuk mengalihkan anggaran ke program makan gratis sekolah⁸—sebuah langkah yang berbeda dari orientasi infrastruktur Jokowi. Kemenkeu mencatat RAPBN 2026 menargetkan pertumbuhan 5,4% dan defisit 2,45% PDB, dengan fokus kesejahteraan dasar⁹.

East Asia Forum menulis bahwa Prabowo “swiftly consolidated power” melalui formasi kabinet besar dan loyalis, menciptakan orbit kekuasaan yang dapat berdiri sendiri¹⁰. Lowy Institute menilai Prabowo mulai mempersonalisasi diplomasi Indonesia dengan pendekatan lebih langsung dan realistis¹¹, berbeda dari gaya teknokratis Jokowi.

Data ini menunjukkan potensi arah baru, meski langkahnya tetap berada dalam batas ruang gelap negosiasi antara warisan Jokowi dan visi baru Prabowo.

Ruang Gelap: Keberlanjutan dan Pertarungan Baru

Ruang gelap relasi ketiganya memunculkan dua arus sekaligus.

1. Ruang Gelap yang Menghasilkan Keberlanjutan

Stabilitas politik Prabowo dinilai lebih kondusif dibanding awal pemerintahan Jokowi¹². Survei ARINA Institute menunjukkan 64% publik menilai Jokowi masih berpengaruh dalam pemerintahan Prabowo¹³. Approval rating Prabowo mencapai 80,9% pada tahun pertama¹⁴—menandakan konsistensi legitimasi.

Ini menunjukkan bahwa kesinambungan jaringan kekuasaan Jokowi–Gibran memang memberikan stabilitas pada pemerintahan awal Prabowo, sebagaimana digambarkan Isa Anshori.

2. Ruang Gelap yang Memicu Pertarungan Baru

Namun data juga menunjukkan munculnya konflik yang tidak terlihat di permukaan :

– Amnesty International mencatat 344 penangkapan, 152 luka fisik, dan 288 ancaman digital terhadap jurnalis/aktivis dalam 2024–2025¹⁵.

– SETARA mencatat regresi kebebasan beragama pada 2024¹⁶.

– Financial Times melaporkan protes massal terkait gaya hidup mewah elite DPR¹⁷.

– ICW, INFID, dan YLBHI menyebut “krisis demokrasi” dalam satu tahun pertama pemerintahan¹⁸.

– Komnas HAM mencatat peningkatan aduan publik terkait ruang sipil¹⁹.

Ini menunjukkan bahwa ruang gelap bukan hanya menciptakan kesinambungan, tetapi juga memicu ketegangan baru antara negara dan warga.

Potensi Arah Baru Prabowo

Pertanyaannya: mampukah Prabowo keluar dari bayang ruang gelap itu?

Data memperlihatkan bahwa peluang itu terbuka:

1. Konsolidasi kekuasaan melalui kabinet dan loyalis²⁰.

2. Pergeseran orientasi ekonomi dari infrastruktur ke kesejahteraan dasar.

3. Diplomasi yang lebih personal dan realistis.

4. Koalisi besar non-PDIP yang memberi keleluasaan manuver.

Dengan demikian, Prabowo berada pada persimpangan: melanjutkan struktur kekuasaan yang dibangun Jokowi atau memanfaatkan struktur itu untuk membangun arah baru yang lebih otonom. Inilah dimensi penting yang menambah kedalaman analisis Isa Anshori : bahwa ruang gelap tidak hanya melindungi, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi reposisi kekuasaan.

Penutup

Ruang gelap politik Indonesia bekerja seperti sungai bawah tanah: tidak terlihat, tetapi menggerakkan arah aliran permukaan. Jokowi membangun perlindungan bagi Gibran. Prabowo mengambil alih beban warisan sambil menata kekuasaannya sendiri. Keduanya bertemu dalam suatu ruang gelap yang menghasilkan kesinambungan, tetapi juga membuka potensi pertarungan baru.

Kini, pertanyaannya tinggal satu : Apakah Prabowo akan tetap berjalan dalam lanskap ruang gelap warisan Jokowi, atau ia akan menggunakan stabilitas itu untuk membentuk arah baru yang benar-benar miliknya?

Waktu, data, dan dinamika kekuasaan akan menjawabnya—sebagaimana ruang gelap itu selalu bekerja.

 

FOOTNOTE

1. KPU RI, Rekapitulasi Hasil Pemilu 2024, 2024.

2. Cogent Social Sciences, 2025.

3. Bloomberg, 2024.

4. Reuters, 23 April 2024.

5. Unpad National Survey, 2024.

6. JPI UNNES, 2024.

7. Al Jazeera, 5 Februari 2024.

8. Inpres No. 1/2025.

9. Kemenkeu, Nota Keuangan RAPBN 2026.

10. East Asia Forum, Juni 2025.

11. Lowy Institute, November 2024.

12. RMOL.ID, 2025.

13. ARINA Institute, 2025.

14. GISReports, 2025.

15. Amnesty International, 2025.

16. SETARA Institute, 2025.

17. Financial Times, 2025.

18. ICW–INFID–YLBHI, 2025.

19. Komnas HAM, Laporan Tahunan 2025.

20. East Asia Forum, 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *