JAGAT INDONESIA – SUMENEP | Suasana khidmat menyelimuti Dusun Batu Bintang, Desa Nyabakan Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, pada Selasa malam (09/06/2026). Yayasan Hayatul Mursyidin sukses menyelenggarakan perhelatan akbar, Haflatul Imtihan sekaligus Wisuda Tahfidzul Quran Juz 30.
Acara yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB ini menjadi momen berharga bagi para santri, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sebelum memasuki rangkaian acara inti, pihak yayasan memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada para santri berprestasi, baik dalam kategori hafalan Al-Quran maupun peringkat akademik.
Kehadiran sosok ulama sepuh, KH. Muzammil yang juga merupakan guru dari Pengasuh Yayasan Hayatul Mursyidin, Kiyai Kiwani, menambah sakralnya prosesi malam itu. Tampak pula keluarga besar dari Pacenan serta para tokoh masyarakat setempat yang turut memberikan dukungan penuh bagi pendidikan karakter generasi muda di wilayah Batang-Batang.

Puncak acara diisi dengan pengajian umum oleh pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’tsurin Pakong, Pamekasan, Raden Mas KH. Abdul Hamid Roqib Suryodirjo. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara santri, wali santri, dan pendidik dalam menuntut ilmu.
Mengutip sebuah Hadist Qudsi, beliau mengingatkan pentingnya rasa syukur kepada perantara nikmat Allah:
عبدي لم يشكرني اذا لم يشكر على من اجريت نعمتي على يديه (حديث قدسي)
“Hamba-Ku tidak bersyukur kepada-Ku kalau tidak bersyukur kepada orang yang menjadi penyebab sampainya nikmat-Ku padanya.”
KH. Abdul Hamid menyoroti bahwa ilmu setinggi apa pun tidak akan berdampak positif tanpa adanya barokah, yang salah satunya bersumber dari khidmah (pengabdian) kepada guru.
“Pendidik yang sabar, wali santri yang sabar, dan siswa yang sabar adalah kunci. Ketiganya saling berkaitan. Jika salah satu saja tidak sabar, maka ilmu akan sulit dicapai,” ujar beliau di hadapan para jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengulas kembali enam syarat keberhasilan dalam menuntut ilmu yang tersurat dalam kitab Ta’limul Muta’allim, yakni:
- Cerdas
- Keinginan yang kuat
- Sabar
- Biaya (Finansial) – meskipun beliau menegaskan bahwa faktor finansial bukanlah segalanya, karena kegiatan belajar tetap bisa berjalan selama dilandasi kesabaran.
- Petunjuk Guru
- Tidak berhenti di tengah jalan.
Beliau berpesan kepada para orang tua agar tidak mudah menyerah dalam mengawal pendidikan anak.
“Dikala muncul kejenuhan pada anak, berikanlah arahan yang menarik agar mereka tidak berhenti di tengah jalan. Kita harus membantu pendidik dengan terus mengarahkan anak ke hal-hal positif saat mereka berada di rumah,” tambahnya.
Acara yang penuh keberkahan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh KH. Muzammil dari Pacenan, Batang-Batang, sebagai penutup rangkaian kegiatan wisuda dan pengajian malam itu.
Penulis : Gus Li
Editor : Jagat Indonesia







