SKANDAL MBG SUMENEP: “Ini Bukan Makanan Bergizi, Tapi Beracun Gratis!”

Gizi atau Racun? Skandal Buah Busuk di SDN Pinggirpapas 1 Coreng Program MBG.

JAGATINDONESIA.COM, SUMENEP – Niat mulia Pemerintah Pusat melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tercoreng di akar rumput. Hari ini, SDN Pinggirpapas 1 menjadi sorotan tajam setelah sejumlah wali murid meluapkan amarahnya lantaran anak-anak mereka disuguhi buah yang sudah tidak layak konsumsi alias busuk.

​Proyek Ambisius yang Terkesan “Ugal-ugalan”, Program yang digadang-gadang sebagai solusi stunting dan peningkatan gizi pelajar ini justru menuai kritik pedas. Salah satu wali murid di SDN Pinggirpapas 1 menyatakan bahwa pelaksanaan di lapangan sangat jauh dari harapan.

“Program MBG itu bagus, tapi terkesan ugal-ugalan tanpa perhitungan yang mapan. Bayangkan anak saya dikasih buah busuk! Ini sih bukan Makanan Bergizi Gratis, tapi Makanan Beracun Gratis!” cetus salah satu wali murid dengan nada kecewa.

​Kondisi buah yang sudah berubah warna dan berbau tersebut memicu kekhawatiran massal akan kesehatan para siswa. Alih-alih mendapatkan asupan vitamin, para orang tua justru takut anak-anak mereka terserang penyakit pencernaan.

​Desakan Evaluasi Total: Jangan Main-main dengan Nyawa Siswa, kecewaan ini menjadi tamparan keras bagi pihak penyelenggara dan rekanan penyedia makanan. Minimnya pengawasan kualitas (quality control) dianggap sebagai lubang besar yang membahayakan keselamatan siswa.

​Wali murid mendesak agar Pemerintah segera turun tangan melakukan audit menyeluruh terhadap rantai pasok program MBG di Sumenep.

“Jadi saya minta Pemerintah untuk meninjau ulang program MBG ini dan harus tegas terhadap segala bentuk penyimpangan yang terjadi di lapangan,” tegas

Sebagai kontrol Sosial pihak wali murid Menanti Ketegasan Dinas, hingga berita ini diturunkan, publik menunggu langkah konkret dari Dinas Pendidikan maupun koordinator program MBG wilayah Sumenep. Jika penyimpangan seperti pemberian makanan tak layak ini dibiarkan tanpa sanksi tegas bagi vendor atau penyedia, maka marwah program nasional ini dipastikan akan runtuh di mata masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *