Jakarta, 4 Desember 2025 – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) kini telah ditetapkan sebagai krisis kemanusiaan berskala besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (3/12) malam mengoreksi data terbaru, mencatat korban meninggal dunia mencapai 770 jiwa, dan 463 jiwa lainnya masih dinyatakan hilang.
Fokus Utama: Angka Korban dan Keputusan Pusat
Lonjakan angka korban ini disebabkan oleh temuan baru di wilayah terdampak paling parah. Menko PMK, Muhadjir Effendy, menyatakan bencana ini merupakan pukulan berat bagi bangsa.
“Ini tragedi nasional. Jumlah korban yang mencapai ratusan jiwa menuntut respons cepat dari seluruh lini pemerintah. Kita tidak boleh lengah sedetik pun dalam upaya pencarian dan penyelamatan. Dana siap pakai sudah saya instruksikan untuk segera dicairkan hari ini,” tegas Muhadjir Effendy saat memberikan keterangan pers di kantor Kemenko PMK [Dilansir dari Kompas.com].
Kendala Distribusi dan Jeritan Pengungsi
Distribusi logistik menghadapi tantangan berat. Akses darat yang lumpuh total memaksa BNPB mengerahkan 7 unit helikopter untuk suplai ke desa-desa terisolasi.
Seorang pengungsi di Agam, Sumatera Barat, bernama Rina (45), memberikan testimoni pedih: “Kami di sini kekurangan air bersih, anak saya sudah demam dua hari. Bantuan memang ada, tapi datangnya hanya lewat udara dan tidak cukup untuk kami semua. Kami hanya bisa pasrah,” ujarnya saat diwawancarai tim jurnalis di Posko Pengungsian Agam.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan adanya peningkatan kasus demam dan ISPA di posko pengungsian, menuntut suplai obat-obatan dan sanitasi yang lebih memadai.












