Bismillahirrahmanirrahim
Dengan memohon ridha Allah SWT, serta dilandasi tanggung jawab moral, keilmuan, dan kebangsaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, kami yang terdiri dari para aktivis, akademisi, intelektual, santri, dan warga Nahdliyin yang berhimpun dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) di Yayasan Cheng Hoo Surabaya pada tanggal 15 Juni 2026, memandang perlu menyampaikan pernyataan sikap menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama.
Kami mencermati bahwa dinamika menjelang Muktamar menunjukkan semakin kuatnya tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan yang berpotensi menggeser peran strategis ulama sebagai penjaga arah, penuntun nilai, dan pengawal peradaban.
Jika situasi ini dibiarkan, maka NU berisiko mengalami pergeseran orientasi dari jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berlandaskan ilmu dan akhlak menjadi arena kompetisi kepentingan yang menjauh dari cita-cita para muassis.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, kami menyampaikan Maklumat Cheng Hoo sebagai berikut:
1. Menegaskan Kembali Khittah Nahdlatul Ulama 1926
NU harus tetap berdiri sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berkhidmat untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan, dengan menjadikan Khittah 1926 sebagai pijakan moral, intelektual, dan organisatoris dalam setiap pengambilan keputusan.
2. Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Organisasi
Ulama harus kembali ditempatkan sebagai penunjuk arah perjalanan organisasi, bukan sekadar simbol legitimasi.
Keputusan-keputusan strategis NU harus bertumpu pada kebijaksanaan keulamaan, kedalaman ilmu, dan kemaslahatan umat.
3. Menolak Personalisasi dan Kultus Kepemimpinan
NU adalah organisasi yang dibangun di atas sistem keulamaan, bukan pada dominasi figur tertentu. Karena itu, seluruh warga Nahdliyin perlu menjaga tradisi musyawarah, kolektivitas, dan kelembagaan yang menjadi warisan para pendiri NU.
4. Menjaga Muktamar sebagai Forum Permusyawaratan Tertinggi
Muktamar harus berlangsung secara demokratis, bermartabat, bebas dari praktik transaksional, mobilisasi kepentingan, maupun intervensi kekuatan di luar organisasi yang dapat mencederai kedaulatan jam’iyah.
5. Menguatkan Peran NU sebagai Penyuluh Peradaban
Di tengah krisis moral, ketimpangan sosial, disrupsi teknologi, dan tantangan geopolitik global, NU harus tampil sebagai kekuatan peradaban yang menghadirkan ilmu, keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan universal.
6. Mendorong Regenerasi Kepemimpinan Berbasis Ilmu dan Integritas
Kepemimpinan NU ke depan harus lahir dari proses kaderisasi yang sehat, menjunjung akhlak, kapasitas intelektual, rekam jejak pengabdian, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa.
7. Menjaga Independensi dan Marwah Organisasi
NU harus tetap menjadi mitra kritis negara dan seluruh kekuatan sosial-politik, tanpa kehilangan independensi moralnya sebagai penjaga nurani umat dan bangsa.
8. Menyerukan Persatuan Warga Nahdliyin
Perbedaan pilihan dan pandangan menjelang Muktamar tidak boleh merusak ukhuwah. Seluruh elemen NU harus mengedepankan adab, persaudaraan, dan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun individu.
9. Mendorong warga NU menjadi bagian suluh peradaban bangsa menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045
warga NU harus menjadi suluh peradaban yang menerangi kehidupan bangsa melalui keteladanan, keilmuan, pengabdian, dan inovasi serta berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia yang maju , berkeadilan dan berkeadaban melalui Indonesia Emas 2045
Penutup
Kami meyakini bahwa masa depan Nahdlatul Ulama sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga tradisi keulamaan, memperkuat sistem organisasi, dan tetap setia pada cita-cita para muassis dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan kemaslahatan.
Atas dasar itu, kami menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama menjaga Muktamar sebagai momentum memperkuat jam’iyah, mengembalikan ulama sebagai navigator organisasi, serta meneguhkan NU sebagai penuntun peradaban Indonesia dan dunia.
“Ketika ulama kehilangan posisi sebagai penunjuk arah, organisasi berisiko kehilangan kompas. Namun ketika ulama kembali menjadi navigator, NU akan tetap menjadi mercusuar peradaban bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.”
Surabaya, 15 Juni 2026
MAKLUMAT CHENG HOO
“Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama”
Forum Aktivis, Akademisi, Intelektual, dan Warga Nahdliyin Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama
Dimakkumatkan di Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia – Surabaya
Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur
Sudarsono Rahman
Penulis : Cak Isa
Editor : Jagat Indonesia







