*MAKLUMAT CHENG HOO* Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama

Senin, 15 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan memohon ridha Allah SWT, serta dilandasi tanggung jawab moral, keilmuan, dan kebangsaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, kami yang terdiri dari para aktivis, akademisi, intelektual, santri, dan warga Nahdliyin yang berhimpun dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) di Yayasan Cheng Hoo Surabaya pada tanggal 15 Juni 2026, memandang perlu menyampaikan pernyataan sikap menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama.

Kami mencermati bahwa dinamika menjelang Muktamar menunjukkan semakin kuatnya tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan yang berpotensi menggeser peran strategis ulama sebagai penjaga arah, penuntun nilai, dan pengawal peradaban.

Jika situasi ini dibiarkan, maka NU berisiko mengalami pergeseran orientasi dari jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berlandaskan ilmu dan akhlak menjadi arena kompetisi kepentingan yang menjauh dari cita-cita para muassis.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, kami menyampaikan Maklumat Cheng Hoo sebagai berikut:

1. Menegaskan Kembali Khittah Nahdlatul Ulama 1926

NU harus tetap berdiri sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berkhidmat untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan, dengan menjadikan Khittah 1926 sebagai pijakan moral, intelektual, dan organisatoris dalam setiap pengambilan keputusan.

2. Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Organisasi

Ulama harus kembali ditempatkan sebagai penunjuk arah perjalanan organisasi, bukan sekadar simbol legitimasi.

Keputusan-keputusan strategis NU harus bertumpu pada kebijaksanaan keulamaan, kedalaman ilmu, dan kemaslahatan umat.

3. Menolak Personalisasi dan Kultus Kepemimpinan

NU adalah organisasi yang dibangun di atas sistem keulamaan, bukan pada dominasi figur tertentu. Karena itu, seluruh warga Nahdliyin perlu menjaga tradisi musyawarah, kolektivitas, dan kelembagaan yang menjadi warisan para pendiri NU.

4. Menjaga Muktamar sebagai Forum Permusyawaratan Tertinggi

Muktamar harus berlangsung secara demokratis, bermartabat, bebas dari praktik transaksional, mobilisasi kepentingan, maupun intervensi kekuatan di luar organisasi yang dapat mencederai kedaulatan jam’iyah.

5. Menguatkan Peran NU sebagai Penyuluh Peradaban

Di tengah krisis moral, ketimpangan sosial, disrupsi teknologi, dan tantangan geopolitik global, NU harus tampil sebagai kekuatan peradaban yang menghadirkan ilmu, keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan universal.

6. Mendorong Regenerasi Kepemimpinan Berbasis Ilmu dan Integritas

Kepemimpinan NU ke depan harus lahir dari proses kaderisasi yang sehat, menjunjung akhlak, kapasitas intelektual, rekam jejak pengabdian, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa.

7. Menjaga Independensi dan Marwah Organisasi

NU harus tetap menjadi mitra kritis negara dan seluruh kekuatan sosial-politik, tanpa kehilangan independensi moralnya sebagai penjaga nurani umat dan bangsa.

8. Menyerukan Persatuan Warga Nahdliyin

Perbedaan pilihan dan pandangan menjelang Muktamar tidak boleh merusak ukhuwah. Seluruh elemen NU harus mengedepankan adab, persaudaraan, dan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun individu.

9. Mendorong warga NU menjadi bagian suluh peradaban bangsa menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045

warga NU harus menjadi suluh peradaban yang menerangi kehidupan bangsa melalui keteladanan, keilmuan, pengabdian, dan inovasi serta berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia yang maju , berkeadilan dan berkeadaban melalui Indonesia Emas 2045

 

Penutup

Kami meyakini bahwa masa depan Nahdlatul Ulama sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga tradisi keulamaan, memperkuat sistem organisasi, dan tetap setia pada cita-cita para muassis dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan kemaslahatan.

Atas dasar itu, kami menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama menjaga Muktamar sebagai momentum memperkuat jam’iyah, mengembalikan ulama sebagai navigator organisasi, serta meneguhkan NU sebagai penuntun peradaban Indonesia dan dunia.

“Ketika ulama kehilangan posisi sebagai penunjuk arah, organisasi berisiko kehilangan kompas. Namun ketika ulama kembali menjadi navigator, NU akan tetap menjadi mercusuar peradaban bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.”

Surabaya, 15 Juni 2026

MAKLUMAT CHENG HOO

“Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama”

Forum Aktivis, Akademisi, Intelektual, dan Warga Nahdliyin Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama

Dimakkumatkan di Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia – Surabaya

Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur

Sudarsono Rahman

Facebook Comments Box

Penulis : Cak Isa

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarak Budaya Nusantara: MI Al-Ittihad Tanamerah Tampilkan Kejayaan Keraton Mataram Islam dalam Karnaval Sekolah
Mempererat Tali Persaudaraan, Trah Pangeran Aryo Jokotole (TAPAROJO) Resmi Dibentuk di Sumenep
Mimpi Indonesia Bersih (MIBER)
Raden Mas KH. Abdul Hamid Roqib di Haflatul Imtihan Yayasan Hayatul Mursyidin Berpesan : Ilmu Tanpa Barokah Takkan Berdampak
Pesan Mahfud MD di Haul Kiai Agung Raba ke-526: Dorong Madura untuk Peradaban Indonesia Lebih Maju
SUSUR GALUR PEREMPUAN NEGARAWAN HEBAT INDONESIA
YPI SUNAN BONANG MENJADI TUAN RUMAH PENGAJIAN RUTIN PCNU SITUBONDO
Menyingkap Kabut Sejarah Batuampar: Menakar Ulang Sejarah Kyai Banyukalong Mertua Kyai Enthol Bungsoh dan Misteri Pèrèngan

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 22:30 WIB

*MAKLUMAT CHENG HOO* Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama

Sabtu, 13 Juni 2026 - 20:31 WIB

Semarak Budaya Nusantara: MI Al-Ittihad Tanamerah Tampilkan Kejayaan Keraton Mataram Islam dalam Karnaval Sekolah

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:35 WIB

Mempererat Tali Persaudaraan, Trah Pangeran Aryo Jokotole (TAPAROJO) Resmi Dibentuk di Sumenep

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:51 WIB

Mimpi Indonesia Bersih (MIBER)

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:50 WIB

Raden Mas KH. Abdul Hamid Roqib di Haflatul Imtihan Yayasan Hayatul Mursyidin Berpesan : Ilmu Tanpa Barokah Takkan Berdampak

Berita Terbaru

Opini

Mimpi Indonesia Bersih (MIBER)

Kamis, 11 Jun 2026 - 13:51 WIB

2