Indonesia: Demokrasi yang Mahal dan Kehilangan Jiwa
Indonesia sedang menghadapi gejala yang sama. Biaya politik yang sangat mahal membuat banyak politisi akhirnya bergantung pada pemilik modal. Akibatnya, setelah terpilih, orientasi kebijakan sering tidak lagi kepada rakyat, tetapi kepada mereka yang membiayai proses kekuasaan.
Kita menyaksikan bagaimana: banyak partai kehilangan ideologi dan berubah menjadi kendaraan elektoral,
parlemen sering lebih sibuk membangun kompromi kekuasaan dibanding memperjuangkan aspirasi publik, hukum terasa tajam kepada rakyat kecil namun tumpul kepada elite, kritik publik kadang dipandang sebagai ancaman, bukan koreksi demokratis.
Hubungan antara eksekutif, legislatif, dan sebagian elit hukum sering terlihat terlalu harmonis di tengah penderitaan rakyat. Padahal demokrasi tidak membutuhkan keharmonisan kekuasaan. Demokrasi membutuhkan ketegangan moral.
Ketika parlemen terlalu nyaman dengan pemerintah, ketika hukum terlalu dekat dengan kekuasaan, maka rakyat kehilangan benteng terakhirnya.
Facebook Comments BoxHalaman : 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya
Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow








