Demokrasi prosedural tetap berjalan, tetapi jiwa demokrasi mati
Pemilu tetap ada. Parlemen tetap ada. Pengadilan tetap ada. Tetapi keadilan menghilang dari substansinya.
Inilah yang pernah diperingatkan Jürgen Habermas tentang runtuhnya public sphere — ruang publik yang sehat. Ketika komunikasi dikuasai uang, media dikendalikan kepentingan, dan opini diproduksi oleh kekuatan modal, maka rakyat kehilangan kemampuan membedakan mana kebenaran dan mana propaganda.
Demokrasi akhirnya hanya menjadi ritual lima tahunan untuk melegitimasi kekuasaan. Harapan Itu Masih Ada
Tetapi sejarah selalu menunjukkan satu hal penting: kekuasaan sebesar apa pun tetap memiliki ketakutan terbesar terhadap rakyat yang sadar.
Facebook Comments BoxHalaman : 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya
Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow








