Fakta di Balik ‘Lempar Batu Sembunyi Tangan’ Eks Pengurus NU Kota Situbondo

Kamis, 18 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebagai pelurusan opini;

Sikap penolakan SK Caretaker PCNU Situbondo, aksi mereka sejatinya tidak proporsional bila mereka masih mengklaim sebagai pengurus MWC dan Ranting NU se Wilyah Kota. Artinya PCNU sudah tidak pada proporsinya merespon apapun narasi yang dibangun oleh mereka.

Tugas dan kewajiban PCNU adalah memfasilitasi tugas Karteker untuk penyelamatan organisasi yakni menghidupkan keberadaan Ranting dan MWC NU Kota yang masa khidmatnya sudah meninggal cukup lama.

Karena masa khidmat mereka SK_nya sudah tidak berlaku lagi. Secara logik dan faktual yang seharusnya mereka lakukan adalah tunduk dan mengikuti peraturan yang berlaku, yakni menerima serta membantu secara maksimal pelaksanaaan Musranting dan Konfrensi yang sudah berjalan. Bukan membangun opini dan mengkonsolidasikan gerakan “lempar batu sembunyi tangan, ini kan hal yang memalukan, karena SK mereka sudah mati dan yang membuat mati itu ulah mereka sendiri.”

Dengan kata lain, SK kepengurusannya mati disebabkan oleh kelalaiannya sendiri dan sangat mengabaikan sikap koperatif PCNU yang proaktif melakukan koordinasi, toleransi serta peringatan PCNU yang sealu diabaikan.

Akibat pengabaiannya maka SK sebagai keabsahan/legalitasnya dimatikan sendiri. Sekali lagi SK_nya dimatikan sendiri, “bukan PCNU yang mengabaikan keberadaan mereka.” Nah guna melangsungkan eksistensi MWC dan Ranting se Kota, sesuai aturan yang berlaku “mekanismenya” adalah PCNU membentuk Caretaker.

Keputusan PCNU mengeluarkan SK Caretaker bukan keputusan sepihak atau arogansi PCNU untuk membekukan kepengurusan MWC dan Ranting NU Kota.

Tapi MWC dan Ranting NU se Kota yang membekukan sendiri dengan tidak melakukan amanat konstitusi NU untuk melaksanakan Musranting dan Konfrensi sebagaimana aturan berorganisasi di Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Facebook Comments Box

Penulis : RedJI

Editor : Jagat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jagatindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sinergi Pusat-Daerah: 9 Paket Program Ayam Petelur Siap Berdayakan Peternak Jombang
Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Khidmatnya Haul Bujuk Buarren Pamekasan Pererat Silaturahmi Keluarga Besar
Feodalisme Berbaju Demokrasi (FEOKRASI)
*MAKLUMAT CHENG HOO* Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama
Semarak Budaya Nusantara: MI Al-Ittihad Tanamerah Tampilkan Kejayaan Keraton Mataram Islam dalam Karnaval Sekolah
Mempererat Tali Persaudaraan, Trah Pangeran Aryo Jokotole (TAPAROJO) Resmi Dibentuk di Sumenep
Mimpi Indonesia Bersih (MIBER)
Raden Mas KH. Abdul Hamid Roqib di Haflatul Imtihan Yayasan Hayatul Mursyidin Berpesan : Ilmu Tanpa Barokah Takkan Berdampak

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:07 WIB

Sinergi Pusat-Daerah: 9 Paket Program Ayam Petelur Siap Berdayakan Peternak Jombang

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:01 WIB

Fakta di Balik ‘Lempar Batu Sembunyi Tangan’ Eks Pengurus NU Kota Situbondo

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:23 WIB

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Khidmatnya Haul Bujuk Buarren Pamekasan Pererat Silaturahmi Keluarga Besar

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:33 WIB

Feodalisme Berbaju Demokrasi (FEOKRASI)

Senin, 15 Juni 2026 - 22:30 WIB

*MAKLUMAT CHENG HOO* Mengembalikan Ulama sebagai Navigator Nahdlatul Ulama

Berita Terbaru

Opini

Feodalisme Berbaju Demokrasi (FEOKRASI)

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:33 WIB

2