Di Balik Debur Ombak Giliraja: Cak Thoriq dan Wabup Sumenep “Bedah” Rahasia Cinta Abadi

​"Mengayuh Bahtera di Tengah Samudra: Saat Cak Thoriq dan KH Imam Hasyim Mengupas Resep Rahasia Keluarga Tangguh di Pulau Giliraja."

JAGATINDONESIA.COM, ​SUMENEP – Hamparan laut Madura yang tenang menjadi saksi bisu sebuah prosesi sakral di Banmaleng, Pulau Giliraja. Bukan sekadar akad nikah biasa, penyatuan janji suci antara Mahbubi Muhaimin dan Nurjannatul Fajriah (santriwati Ponpes At-Taufiqiyah) ini berubah menjadi forum refleksi mendalam tentang ketahanan keluarga di era modern.

​Kehadiran dua tokoh penting, mantan Bupati Lumajang Cak Thoriq (DPW PKB Jatim) dan Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim, memberikan warna tersendiri. Keduanya tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi sebagai “kompas” bagi pasangan muda ini dalam mengarungi samudra rumah tangga.

​Pesan Cak Thoriq: “Cinta Saja Tidak Cukup, Butuh Akhlak”

​Dalam sambutannya yang lugas, Cak Thoriq menekankan bahwa banyak rumah tangga karam bukan karena hilangnya rasa cinta, melainkan karena terkikisnya akhlak dan keteladanan.

“Pernikahan bukan panggung untuk membuktikan siapa yang paling benar, melainkan ruang untuk saling memuliakan,” tegas Cak Thoriq.

​Ia mengajak kedua mempelai untuk menjadikan figur Rasulullah SAW sebagai standar utama dalam berinteraksi. Menurutnya, kualitas iman seseorang justru paling diuji saat berada di dalam rumah, dalam cara ia memperlakukan pasangannya sehari-hari.

​Senada dengan Cak Thoriq, Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim mengupas filosofi cinta dengan lebih filosofis. Ia mengingatkan bahwa fase Mawaddah (cinta yang menggebu) adalah fase jangka pendek yang penuh emosi dan bisa pasang surut.

“Kekuatan sebenarnya ada pada Rahmah. Itu adalah perjalanan jangka panjang yang berisi kesetiaan, kesabaran, dan ketabahan,” urai KH Imam Hasyim.

Beliau menekankan beberapa poin kunci untuk menjaga bahtera tetap berlayar:

Menerima Fitrah: Suami dan istri diciptakan berbeda bukan untuk saling berbenturan, tapi untuk saling melengkapi.

Ilmu yang Hidup: Menjadikan ilmu agama sebagai lentera yang mewarnai kehidupan, bukan sekadar teori yang larut dalam arus zaman.

Filosofi Rezeki: Menyadari bahwa kekayaan hanyalah “hak pakai”, sehingga tidak ada ruang bagi kesombongan dalam rumah tangga.

​Acara ditutup dengan doa khidmat agar pasangan ini dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah, serta menjadi keluarga yang mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat kepulauan dan bangsa.

​Pesan dari Giliraja ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, benteng pertahanan terakhir peradaban adalah keluarga yang dibangun di atas fondasi akhlak dan kasih sayang yang tulus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *