FSKN dan BPKW XI Perkuat Dokumentasi Warisan Serta Menjaga Jejak Peradaban Karaton Sumenep

FSKN Kasultanan Sumenep Terima Tim BPKW XI, Bahas Sejarah dan Kondisi Warisan Karaton

JAGAT INDONESIA | SUMENEP – Forum Silaturahmi Kraton Nusantara (FSKN) Kasultanan Sumenep menerima kunjungan tim pengumpul data dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Kementerian Kebudayaan, dalam rangka penggalian informasi terkait sejarah perjalanan Keraton Sumenep beserta kondisi warisannya dari masa ke masa.

Kegiatan tersebut diterima langsung oleh Ketua FSKN Kasultanan Sumenep, RB. M. Chairil Anwar Gondodiwiryo, di lingkungan Keraton Sumenep, Selasa (12/5/2026).

Dalam pertemuan itu, tim dari BPK Wilayah XI melakukan wawancara mendalam mengenai sejarah Keraton Sumenep, perkembangan budaya dan pemerintahan pada masa kerajaan, hingga kondisi berbagai peninggalan keraton saat ini.

RB. M. Chairil Anwar Gondodiwiryo menyampaikan bahwa Keraton Sumenep merupakan salah satu warisan sejarah penting di Madura yang memiliki nilai budaya, arsitektur, serta perjalanan panjang dalam perkembangan peradaban di Kabupaten Sumenep.

“Keraton Sumenep bukan hanya simbol pemerintahan masa lalu, tetapi juga pusat kebudayaan dan jejak sejarah yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan berbagai kondisi warisan keraton, mulai dari bangunan bersejarah, benda pusaka, hingga dinamika pelestarian yang terus dilakukan agar tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Sementara itu, tim pengumpul data dari BPK Wilayah XI menyebutkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya dokumentasi dan penguatan data kebudayaan, khususnya terkait sejarah keraton dan pelestarian cagar budaya di Jawa Timur.

Penggalian informasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi Keraton Sumenep dari masa ke masa, termasuk tantangan pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, sekaligus menjadi momentum memperkuat perhatian terhadap pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya Keraton Sumenep sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *