JAGAT INDONESIA | SUMENEP (19 April 2026) – Memperingati Hari Keris Nasional yang jatuh setiap tanggal 19 April, Direktur Naghfir’s Institute, Dr. Naghfir, menyerukan transformasi cara pandang bangsa terhadap keris. Bukan lagi sekadar benda mistis atau pajangan di museum, keris harus dimaknai sebagai simbol fundamental kekuatan, kejayaan, dan kemakmuran Indonesia.
Dalam pernyataan resminya di Sumenep, Dr. Naghfir menegaskan bahwa keris adalah “DNA budaya” yang menyimpan nilai historis, filosofis, dan spiritualitas tinggi yang telah mengawal perjalanan peradaban Nusantara selama berabad-abad.
“Keris bukan sekadar artefak logam. Ia adalah representasi visual dari kekuatan (power), kejayaan (glory), dan kemakmuran (prosperity) bangsa kita. Menjaga keris berarti menjaga kedaulatan peradaban Indonesia,” tegas Dr. Naghfir.
Beliau menekankan pentingnya melihat keris secara utuh. Selain aspek spiritual dan religius yang melekat, keris adalah mahakarya teknologi metalurgi purba yang membuktikan kecerdasan intelektual nenek moyang bangsa Indonesia.
Dr. Naghfir menyoroti tantangan globalisasi. Ia berharap generasi muda tidak canggung membawa identitas keris ke panggung dunia.
“Generasi muda harus memastikan warisan adiluhung ini tetap hidup sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar dongeng pengantar tidur.”
Momentum 19 April 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan Kesadaran Budaya Nasional. Dr. Naghfir berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat lebih serius melakukan edukasi berkelanjutan agar nilai-nilai dalam sebilah keris dapat diimplementasikan dalam semangat pembangunan bangsa menuju Indonesia yang lebih makmur dan disegani di kancah internasional.












