Oleh: R.Ar.Mohammad Rusli
SUMENEP – Idul Fitri selalu membawa cerita tentang kepulangan dan kemenangan. Namun, di balik riuhnya takbir, ada satu fenomena yang bagi sebagian orang dianggap sebagai “perdebatan,” namun bagi masyarakat Sumenep—khususnya di wilayah pedesaan—hal tersebut adalah bumbu kerukunan yang sudah mendarah daging: Perbedaan hari raya.
Bagi masyarakat di Kecamatan Ganding, Pasongsongan, Rubaru, Ambunten, Lenteng, hingga Guluk-Guluk, merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan ketetapan Pemerintah bukanlah barang baru. Ini bukan soal pembangkangan, melainkan soal kepatuhan pada keyakinan lokal dan petunjuk guru atau kiai yang telah diwariskan turun-temurun sejak era Orde Baru hingga saat ini.
Nostalgia di Desa Duko, Saya teringat sebuah memori manis di tahun 1990-an. Saat itu, saya yang tinggal di wilayah Kota Sumenep mengikuti ketetapan Pemerintah yang memutuskan Lebaran jatuh keesokan harinya. Bersama Bapak, saya mudik ke Desa Duko, Kecamatan Rubaru.
Pagi-pagi sekali kami berangkat, mengira masih akan menjalankan ibadah puasa terakhir di kampung halaman. Namun, setibanya di rumah Bude (kakak perempuan Bapak), suasana sudah meriah. Aroma masakan khas lebaran menyerbak, dan wajah-wajah ceria menyambut kami dengan pelukan hangat. Ternyata, di sana sudah Lebaran!
Tanpa rasa canggung atau perdebatan teologis yang rumit, kami pun langsung membatalkan puasa dan ikut larut dalam sukacita hari kemenangan. Di situlah saya belajar: Idul Fitri bukan sekadar soal tanggal di kalender, tapi soal kemantapan hati dan eratnya tali silaturahmi.
Perbedaan yang Menguatkan dalam Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat Sumenep memiliki kedewasaan luar biasa dalam beragama. Perbedaan pandangan tidak lantas mengurangi rasa senang, apalagi memutus hubungan persaudaraan. Justru, perbedaan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah khazanah yang harus dijaga.
Tradisi ater-ater (mengantar makanan) tetap berjalan, jabat tangan tetap erat, dan pintu rumah tetap terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang apakah mereka berlebaran hari ini atau esok.
Di hari yang suci ini, mari kita jadikan perbedaan pandangan sebagai energi untuk saling menguatkan, bukan memperlemah. Mari kita lestarikan harmoni yang telah dicontohkan oleh para orang tua kita di desa-desa.
Minal Aidin Wal Faidzin. Taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbal yaa kariim.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.












