Bukan Dari Yaman : Meluruskan Historiografi Walisongo

R. Achmad Qusyairi Zaini (Penulis adalah cucu nabi, pengasuh Ponpes Hidayatul Ulum Utara, Gaddu Barat, Ganding, Sumenep)

Menarik sekali statemen ulama pamekasan, RKH Abdul Hamid Roqib Suryodirjo yang dirilis kemarin oleh berbagai media. Beliau sepertinya merasa terganggu dengan isi pidato Ustad Habib Rizieq yang menyebut datuk-datuk Walisongo berasal dari Yaman. Wajar kalau Kiai Hamid Suryodirjo kesal, karena data ilmiah sudah jelas bahwa datuk-datuk walisongo berasal dari Uzbekistan.

Perdebatan mengenai asal-usul Walisongo memang kerap kali muncul dalam diskursus sejarah Islam di Nusantara. Salah satu klaim lama menyatakan bahwa datuk-datuk Walisongo berasal dari Yaman. Namun, tentu saja klaim ini tidak dapat diterima begitu saja tanpa melalui verifikasi ilmiah yang ketat, baik dari sisi historiografi, genealogis, maupun arkeologis. Dalam konteks ini, seorang cendekiawan yang memahami disiplin ilmu nasab dan sejarah Islam pasti memiliki landasan kuat untuk mengkritisi dan bahkan menepis pernyataan tersebut.

Secara metodologis, penelusuran asal-usul tokoh sejarah harus bersandar pada sumber primer atau sekurang-kurangnya sumber sekunder yang kredibel. Dalam kajian sejarah Walisongo, banyak referensi klasik sezaman baik sumber nusantara maupun sumber asing yang justru menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara datuk-datuk Walisongo dengan jaringan ulama hejaz, persia dan uzbekistan, alih-alih Yaman.

Sebagai contoh, Sunan Ampel (Raden Rahmat) dalam beberapa sumber disebut memiliki garis keturunan dari Champa (Vietnam), yang memiliki hubungan erat dengan dunia Islam Asia Tenggara dan Tiongkok. Demikian pula Sunan Bonang dan Sunan Giri yang memiliki latar belakang pendidikan dan jaringan intelektual yang luas, mencerminkan mobilitas ulama global hingga ke jantung islam, hejaz.

Dari sisi genealogi (ilmu nasab), klaim keturunan tidak bisa hanya berdasarkan tradisi lisan atau asumsi kultural. Ilmu nasab dalam tradisi intelektual memiliki standar ketat, termasuk pencatatan silsilah yang bersambung (muttashil), adanya saksi sejarah, serta pengakuan dari lembaga otoritatif.

Beberapa pihak yang mencoba kaitkan tokoh Nusantara dengan Yaman ternyata tidak memiliki sanad yang kuat atau bahkan baru disusun pada periode belakangan, sehingga validitasnya patut dipertanyakan.

Selain itu, pendekatan arkeologis dan epigrafi (kajian prasasti) juga menunjukkan keberagaman asal-usul penyebar Islam di Nusantara. Batu nisan kuno di Gresik dan Leran, misalnya, memiliki corak khas Persia dan Gujarat, yang menunjukkan adanya pengaruh kuat dari wilayah tersebut dalam proses Islamisasi.

Secara logis, penyebaran Islam di Nusantara merupakan hasil interaksi global yang kompleks, melibatkan pedagang, ulama, dan sufi dari berbagai pusat-pusat peradaban islam abad 14 hingga 15. Membelokkan fakta bahwa asal-usul Walisongo dari Yaman justru mereduksi kekayaan sejarah itu sendiri.

Dengan demikian, pernyataan bahwa Walisongo berasal dari Yaman tidak memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat jika tidak didukung oleh bukti historis dan genealogis yang valid. Kritik terhadap klaim tersebut bukanlah bentuk penolakan emosional, melainkan upaya menjaga integritas sejarah agar tetap berpijak pada fakta dan metodologi ilmiah.

Pada akhirnya, penting untuk menempatkan Walisongo sebagai bagian dari jaringan ulama global yang berkontribusi dalam Islamisasi Nusantara, tanpa harus mengikat mereka secara sempit pada satu asal geografis tertentu. Pendekatan ilmiah yang objektif akan membawa kita pada pemahaman sejarah yang lebih utuh, jernih, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *