Anies di Usia 57: Teduh yang Menjaga Api

M. Isa Ansori (Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi, Praktisi Transaksional Analisis dan Wakil Ketua ICMI Jatim)

Ada orang-orang yang hadir dalam kehidupan publik seperti hujan deras—menggelegar, riuh, dan segera menguasai langit. Tetapi ada pula yang datang seperti embun: tenang, perlahan, namun diam-diam menjaga akar kehidupan agar tidak mengering. Di tengah politik yang sering dipenuhi suara keras, amarah, dan kegaduhan yang melelahkan, Anies Baswedan justru sering berdiri dengan cara yang berbeda: lebih teduh daripada gaduh, lebih memilih merawat kata daripada melukai dengan kuasa.

Pada usia ke-57, mungkin yang paling menarik dari Anies bukan semata perjalanan politiknya, melainkan cara ia menjaga ketenangan di tengah badai yang hampir tak pernah berhenti menghantamnya. Ada orang yang ketika dihina menjadi kasar. Ada yang ketika diserang menjadi pendendam. Tetapi ada pula yang memilih tetap tenang, sebab ia percaya bahwa kemarahan bukan selalu tanda keberanian, dan ketenangan bukan berarti kelemahan.

Di titik itu, orang mudah teringat pada Buya Hamka.

Hamka pernah menunjukkan kepada bangsa ini bahwa kelembutan bukan lawan dari keteguhan. Ia dipenjara, dicurigai, bahkan disakiti oleh kekuasaan, tetapi tidak membiarkan hatinya berubah menjadi kebencian. Dari dirinya, kita belajar bahwa manusia besar tidak diukur dari seberapa keras ia membalas, melainkan seberapa mampu ia menjaga kejernihan nurani ketika diperlakukan tidak adil.

Ada jejak yang samar tetapi terasa pada diri Anies: cara berbicara yang tidak meledak-ledak, pilihan diksi yang tetap terjaga, dan kesediaan untuk tetap memeluk gagasan meski dipisahkan oleh perbedaan politik. Dalam iklim demokrasi yang sering menjadikan lawan sebagai musuh, sikap semacam itu terasa semakin langka.

Tetapi keteduhan saja tidak cukup untuk membuat seseorang berarti dalam sejarah. Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang baik, tetapi juga orang yang bersedia berdiri ketika konstitusi mulai diperlakukan sekadar formalitas.

Di sinilah orang mungkin mengingat Mohammad Natsir.

Natsir bukan hanya seorang politikus; ia adalah gambaran tentang kesetiaan pada prinsip. Ia percaya bahwa negara tidak boleh berjalan hanya berdasarkan kehendak kekuasaan, tetapi harus tunduk pada moral, hukum, dan akal sehat kebangsaan. Bahkan ketika pilihan politiknya membuatnya tersingkir dari pusat kuasa, ia tidak menggadaikan keyakinannya demi kenyamanan.

Dalam banyak momentum, Anies tampak mencoba menjaga garis itu: bahwa demokrasi harus dirawat dengan akal sehat, bahwa kritik kepada kekuasaan bukan ancaman bagi negara, dan bahwa konstitusi bukan kitab suci yang cukup dibacakan, melainkan janji yang harus dijalankan.

Sikap itu tidak selalu populer. Sebab zaman sering lebih menyukai mereka yang cepat menyesuaikan diri daripada mereka yang memilih setia pada prinsip. Tetapi sejarah hampir selalu memberi tempat khusus kepada orang-orang yang tidak mudah berpindah arah hanya karena angin kekuasaan berubah.

Namun ada satu lagi nama yang terasa jauh sekaligus dekat ketika membaca perjalanan Anies hari ini: Tan Malaka.

Tan Malaka mengajarkan bahwa cinta kepada bangsa tidak selalu berarti tunduk kepada penguasa. Ia berjalan dari pengasingan ke pengasingan sambil membawa keyakinan bahwa Indonesia harus berdiri di atas kesadaran rakyat, bukan ketakutan rakyat. Ia percaya bahwa pikiran yang merdeka adalah syarat bagi republik yang sehat.

Tentu Anies bukan Tan Malaka. Jalan sejarah mereka berbeda. Tetapi ada irisan yang menarik: keberanian untuk tetap berbicara tentang keadilan sosial, pendidikan, kesetaraan kesempatan, dan pentingnya negara hadir bagi mereka yang sering tidak terdengar. Dalam ruang publik yang kian pragmatis, keberpihakan pada gagasan semacam itu sering dianggap terlalu idealistis. Padahal republik ini lahir justru dari orang-orang yang dianggap terlalu idealis.

Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak sekadar melihat Anies sebagai tokoh politik, tetapi sebagai simbol harapan bahwa politik masih mungkin dijalankan dengan nalar, etika, dan kesabaran. Bahwa perbedaan tidak harus diubah menjadi permusuhan. Bahwa kritik tidak identik dengan kebencian. Dan bahwa kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk memuliakan manusia, bukan sekadar mempertahankan dominasi.

Usia 57 adalah usia ketika seseorang biasanya mulai dipanggil bukan hanya oleh ambisi, tetapi juga oleh jejak sejarah yang ingin ia tinggalkan. Pada fase ini, yang dikenang bukan lagi seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih, melainkan apakah kehadirannya membuat publik merasa lebih bermartabat sebagai warga negara.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, ketenangan justru menjadi bentuk keberanian yang paling langka.

Selamat ulang tahun ke-57 untuk Mas Anies Baswedan.

Semoga tetap teduh tanpa kehilangan keteguhan. Tetap bijak tanpa kehilangan keberpihakan. Dan tetap setia menjaga nyala akal sehat di republik yang sering terlalu ramai oleh amarah.

Surabaya, 7 Mei 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *