JAGATINDONESIA.COM, SITUBONDO – Di bawah naungan langit malam yang bening, tepat pada Kamis malam (11/02), sebuah perjalanan yang digerakkan oleh rindu dan penghambaan melintasi Selat Madura. Rombongan Majelis Rotibul Haddad Naghfir dari Batuan Regency, Sumenep, melabuhkan sauh ruhaninya di bumi barokah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Perjalanan ini bukanlah sekadar perpindahan raga, melainkan ziarah hati para pencari cahaya untuk menyambung sanad dan membasuh jiwa di kediaman sang pemangku samudra ilmu, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy.
Mengetuk Pintu Langit melalui Makbaroh, sebelum melangkah ke kediaman pengasuh, rombongan terlebih dahulu bersimpuh di Makbaroh para Auliya. Dalam kekhusyukan yang mendalam, doa-doa dipanjatkan di hadapan pusara:
- KHR. Syamsul Arifin
- KHR. As’ad Syamsul Arifin
- KHR. Fawaid As’ad Serta keluarga besar PP. Sukorejo. Di sana, aroma dzikir terasa kian lekat, menyatukan napas para peziarah dengan spirit perjuangan para leluhur yang telah mewakafkan hidupnya untuk umat.
“Membaca Rotibul Haddad di Sukorejo bukan sekadar melantunkan dzikir, namun ia kokoh berdiri di atas pondasi Aqoid 20. Itulah ruh yang menyatukan antara lisan yang berdzikir dengan hati yang bertauhid,” dawuh Kiyai Azaim
Ijazah Dua Jalur: Dari Sukorejo hingga Tanah Suci, tepat pukul 11.15 WIB, Kamis (12/02) yang bertepatan dengan 24 Sya’ban 1447 H, pintu keberkahan terbuka lebar saat rombongan diterima langsung oleh KHR. Ach. Azaim Ibrahimy. Suasana dalem yang teduh seketika berubah menjadi majelis ilmu yang syahdu.
Dalam wejangannya, Kiai Azaim menekankan mutiara tentang istiqomah. Beliau mengingatkan bahwa keteguhan hati—meski dimulai dari empat orang hingga menjadi puluhan—adalah kunci yang akan membuahkan hasil nyata di sisi Allah SWT.
”Ijazah ini adalah rantai cahaya yang menyambung. Kami alirkan sanad ini dari bumi Sukorejo hingga ke pangkuan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki di Tanah Suci Mekkah.”
Puncak dari pertemuan ini adalah penganugerahan ijazah Rotibul Haddad yang istimewa melalui dua jalur sanad (transmisi ilmu):
- Sanad Sukorejo: Yang diawali dengan penguatan akidah melalui Aqoid 20.
- Sanad Al-Maliki: Bersumber dari guru beliau, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, saat beliau menimba ilmu di tanah suci Mekkah.
Gema “Ajaztukum” (saya ijazahkan kepada kalian) dari sang Kiai disambut dengan sahutan “Qobiltu” (kami terima) yang mantap dari para jamaah. Sebuah ikatan ruhani telah terjalin, menyambungkan sanad ilmu yang tembus hingga ke pengarang Ratib, Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad.
“Semoga langkah istiqomah ini menjadi wasilah turunnya rahmat, menyongsong bulan suci Ramadhan dengan hati yang terang benderang oleh cahaya dzikir.”
Alhamdulillah, semoga barokah.












