Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah bentuk tawasul perjuangan. Para pengurus dan anggota memanjatkan doa sekaligus memohon restu spiritual agar langkah organisasi ke depan tetap berada pada rel penghormatan terhadap jasa para pahlawan dan pemuka agama.
Koordinator Banteng Sakera Nahdliyin, Gus Huda, menegaskan bahwa napas perjuangan Islam di Nusantara tidak pernah bisa dipisahkan dari peran ulama. Menurutnya, dakwah para wali terdahulu selalu mengedepankan nilai persatuan dan harmoni.
“Para ulama dan waliyullah telah memberi teladan nyata bahwa menjaga agama dan menjaga bangsa harus berjalan beriringan. Inilah fondasi utama yang kami bawa dalam gerakan ini,” tegas Gus Huda.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Banteng Sakera Nahdliyin, Maryono, melihat pentingnya transfer nilai-nilai perjuangan kepada generasi milenial dan Gen Z. Ia menilai ziarah ini sebagai titik tolak untuk membangun gerakan yang memiliki akar sejarah yang kuat.
“Ziarah kebangsaan ini menjadi langkah awal untuk membangun gerakan yang lahir dari rahim perjuangan, doa, dan penghormatan kepada para pendahulu bangsa. Kami ingin semangat ini terus berlanjut dan menyebar luas,” ujar Maryono.
Banteng Sakera Nahdliyin hadir sebagai wadah baru bagi umat yang memiliki jiwa petarung namun tetap menjunjung tinggi tradisi. Organisasi ini memposisikan diri sebagai pembela hak-hak rakyat kecil (wong cilik) dengan semangat keberanian khas Sakera yang dipadukan dengan nilai-nilai Keislaman Nusantara.
Dengan dimulainya ziarah ini, Banteng Sakera Nahdliyin siap mengonsolidasi kekuatan di berbagai daerah untuk mengawal isu-isu kemasyarakatan dengan pendekatan yang santun namun tegas.












