JAGATINDONESIA.COM, SITUBONDO – Dalam suasana yang akrab dan penuh ketakziman, KH. Qumri Rahman (Ketua PC Ansor Sumenep) yang hadir sebagai perwakilan rombongan, menyampaikan selayang pandang perjalanan Majelis Rotibul Haddad Naghfir. Ia mengisahkan bagaimana amalan ini bermula dari langkah kecil yang kini tumbuh menjadi jamaah yang istiqomah.
“Ibarat benih yang tumbuh di tanah yang haus, rutinan ini dimulai empat tahun silam hanya dengan empat orang. Kini, atas izin-Nya, telah berkembang menjadi lebih dari dua puluh jiwa yang rindu akan ketenangan dzikir,” tutur KH. Qumri di hadapan Kiai Azaim.
Menyambung Mata Rantai yang Terputus
Meski istiqomah telah terjaga, KH. Qumri mengungkapkan ada satu kerinduan yang belum tertunaikan: Sanad. Beliau menganalogikan bahwa berdzikir tanpa sanad ibarat berjalan di kegelapan tanpa pemandu yang memegang pelita hingga ke sumber cahaya aslinya.
“Kami menyadari, selama ini kami berjalan tanpa ikatan sanad yang tersambung secara lisan dan ruhani. Kedatangan kami ke Sukorejo malam ini adalah untuk memohon keridhaan Kiai, agar sudi kiranya menyambungkan sanad Rotibul Haddad ini kepada kami,” lanjutnya dengan nada penuh harap.
Makna Silaturrahim: Antara Sumenep dan Sukorejo, pertemuan ini bukan sekadar kunjungan fisik antara tamu dan tuan rumah, melainkan sebuah peristiwa Ittishol (penyambungan) ruhani. Di tengah kesibukan akhir bulan Sya’ban menyongsong Ramadhan, rombongan Naghfir memilih untuk “mengetuk pintu” pewaris ilmu demi keberkahan amalan.
Rombongan yang berangkat dari Markaz Rotibul Haddad Naghfir Batuan Regency Sumenep pada Malam Kamis, tanggal 11 Pebruari 2026 M. yang bertepatan dengan 24 Sya’ban 1447 H. pukul 20.00 Wib.
Penutup yang Menyentuh Hati, seiring dengan diterimanya rombongan oleh KHR. Azaim Ibrahimy, terpancar harapan bahwa setiap butir dzikir yang dilantunkan di Batuan Regency nantinya tidak lagi sekadar getaran lidah, melainkan aliran cahaya yang menyambung hingga ke penyusun Ratib, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Kini, Majelis Naghfir pulang membawa lebih dari sekadar kenangan; mereka membawa “tali” yang kokoh. Sebuah sanad yang akan menjaga keotentikan doa dan melipatgandakan keberkahan bagi masyarakat Sumenep.












