Di layar-layar ponsel, kita menyaksikan sesuatu yang membuat dada sesak.
Ada murid membully gurunya di Purwakarta. Ada pula siswi menyerang gurunya di Langsa. Ruang kelas yang seharusnya menjadi taman ilmu, mendadak terasa seperti panggung kehilangan hormat.
Lalu kita bertanya dalam hati: *ke mana perginya adab?*
Bukankah sejak dahulu negeri ini dibangun dengan satu tiang utama: hormat kepada guru, sayang kepada orang tua, dan santun kepada sesama?
Lebih menggetarkan lagi, sebagian dari peristiwa itu melibatkan anak perempuan.
Padahal baru beberapa hari lalu kita memperingati Hari Kartini. Hari ketika bangsa ini mengenang Raden Ajeng Kartini, perempuan yang memperjuangkan hak belajar bagi kaumnya. Kartini lahir di Jepara tahun 1879 dan dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan Indonesia. Surat-suratnya kemudian dihimpun menjadi karya terkenal *Habis Gelap Terbitlah Terang*.
Namun ironi tak berhenti di sana.
Aku duduk bersama beberapa anak perempuan usia SMA. Kelas 10 dan 11. Sebagian berhenti sekolah. Bukan karena tak mampu membayar. Bukan karena tak ada akses. Tapi karena satu kalimat yang membuat hati tercekat:
*“Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Toh nanti akhirnya ke dapur juga.”*
Aku terdiam lama.
Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Ia adalah tanda bahwa ada mimpi yang mati sebelum sempat tumbuh.
Benarkah perempuan hanya berakhir di dapur?
Tidak. Seribu kali tidak.
Dapur adalah tempat mulia bila dijalani dengan cinta. Menjadi istri salehah adalah kemuliaan. Menjadi ibu yang mendidik anak dengan kasih adalah kedudukan tinggi. Tapi perempuan *bukan dibatasi oleh dapur*, sebagaimana laki-laki pun bukan dibatasi oleh kantor.
Perempuan adalah manusia yang Allah beri akal, hati, bakat, dan amanah.
Lihat Khadijah binti Khuwaylid. Seorang saudagar besar, sukses, dermawan, cerdas, sekaligus pendamping terbaik Rasulullah.
Lihat Aisyah binti Abu Bakar. Beliau meriwayatkan ribuan hadits, menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat.
Lihat Rufaidah al-Aslamiyah. Sosok yang dikenal sebagai pelayan kesehatan di masa Rasulullah.
Lihat Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, dan Raden Ajeng Kartini.
Mereka bukan perempuan yang meninggalkan kodrat.
Mereka justru memuliakan kodrat dengan ilmu.
Sebab perempuan berilmu akan melahirkan generasi berilmu.
Perempuan beradab akan menumbuhkan rumah yang beradab.
Perempuan yang berpikir luas akan menyelamatkan anak-anaknya dari sempitnya zaman.
Hari ini kita menghadapi dunia yang rumit. Krisis moral. Pergaulan liar. Teknologi tanpa arah. Informasi tanpa saringan. Kalau perempuan tak dibekali ilmu, bagaimana ia kelak mendidik anak-anaknya? Bagaimana ia memilih jalan hidupnya? Bagaimana ia menjaga dirinya?
Allah telah berfirman bahwa Dia meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu.
Maka sungguh menyedihkan jika di zaman ketika pintu belajar terbuka lebar, justru ada anak perempuan yang merasa tak perlu belajar.
Dan sungguh lebih menyedihkan ketika ada anak perempuan yang kehilangan adab kepada gurunya.
Karena sesungguhnya bangsa ini tak sedang kekurangan gedung sekolah.
Bangsa ini sedang kekurangan *jiwa yang mau belajar dan hati yang mau hormat*.
Wahai anak-anak perempuan Indonesia…
Jadilah lembut, tapi jangan lemah.
Jadilah santun, tapi jangan pasif.
Jadilah cerdas, tapi tetap rendah hati.
Jadilah terpelajar, tanpa kehilangan akhlak.
Karena negeri ini tidak butuh sekadar perempuan yang cantik wajahnya.
Negeri ini butuh perempuan yang terang pikirannya, luas hatinya, dan kokoh adabnya.
Agar kelak, ketika dunia gelap…
lahir lagi Kartini-Kartini baru dari rumah-rumah sederhana Indonesia.
Bogor, 27 April 2026












