JAGATINDONESIA.COM, SUMENEP — Menjelang penentuan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, dinamika internal birokrasi kian menarik untuk dicermati. Sejumlah bakal calon (bacalon) mulai terbaca polanya—bukan hanya dari pemberitaan media, tetapi juga dari respons internal Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan rekam jejak kinerja yang terekam dalam sistem pemerintahan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kontestasi Sekda tidak sesederhana soal siapa yang paling sering muncul di ruang publik.
CALON “TERBRANDING” MEDIA, KUAT DI LUAR, RAPUH DI DALAM
Ada bacalon yang sejak awal tampak sudah “dibentuk” citranya. Pemberitaan masif, narasi positif berulang, hingga penggambaran seolah menjadi figur paling siap memimpin birokrasi. Di permukaan, sosok ini terlihat kuat dan meyakinkan.
Namun, di balik itu, muncul catatan penting: figur ini tidak sepenuhnya mendapatkan penerimaan hangat dari internal OPD. Beberapa kalangan birokrasi menilai komunikasi kurang egaliter dan koordinasi belum mencerminkan kepemimpinan kolektif. Branding media yang kuat, pada titik tertentu, justru berbanding terbalik dengan persepsi di ruang kerja nyata.
Ini menjadi sinyal bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas kepemimpinan birokrasi.
BERJALAN SUNYI, NAMUN EFEKTIF DAN EGALITER
Di sisi lain, terdapat bacalon yang nyaris tak terdengar di ruang publik. Minim ekspose media, tidak agresif membangun citra, namun dikenal luas di internal OPD sebagai figur pekerja. Pola kepemimpinannya cenderung egaliter—tidak menonjolkan hierarki kaku, tetapi menguatkan kerja tim.
Bacalon tipe ini sering kali luput dari radar opini publik, tetapi justru memiliki modal kepercayaan birokrasi yang kuat. Dalam konteks Sekda sebagai penggerak mesin ASN, karakter seperti ini menjadi nilai strategis yang sering kali tidak terlihat dari luar.
INOVATIF TANPA PERSONAL BRANDING
Ada pula bacalon yang menunjukkan kinerja inovatif, meski jarang menampilkan sosok pribadinya ke publik. Alih-alih membangun personal branding, bukti kerja justru muncul konsisten melalui kanal resmi instansi, mulai dari program digitalisasi, terobosan layanan, hingga capaian kinerja yang terukur.
Model kepemimpinan semacam ini menempatkan institusi di atas individu. Ia tidak mencari sorotan, tetapi membiarkan data dan hasil kerja berbicara. Dalam iklim reformasi birokrasi, pendekatan ini justru relevan dengan semangat merit system.
CALON ALTERNATIF: RENDAH HATI, TARGET KINERJA TERCAPAI
Sementara itu, terdapat pula calon alternatif yang dinilai memiliki kepribadian rendah hati dan komunikatif. Meski sempat memunculkan sedikit kontroversi di kalangan media, catatan kinerjanya relatif stabil dan target program yang dipimpin tercapai dengan baik.
Kontroversi ini lebih banyak bersifat persepsi, bukan substansi. Dalam praktik birokrasi, figur seperti ini sering kali menjadi “penyeimbang”, tidak terlalu dominan, namun mampu menjaga ritme kerja organisasi.












