SUMENEP, JAGAT INDONESIA – Suasana di Dusun Sampurna, Desa Campaka, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep mendadak hangat. Bukan karena cuaca, melainkan karena gelombang penolakan warga terhadap rencana pendirian menara telekomunikasi (tower) milik PT XL Axiata yang dinilai semakin menjamur tanpa dampak nyata bagi ekonomi lokal.
Pada musyawarah desa yang digelar Kamis (08/01/2026) sore, PJ Kepala Desa Campaka, Mohammad Zainal, SE, turun langsung memediasi pertemuan antara warga dengan pihak terkait di kediaman pemilik lahan, K. Muksin.
Keresahan Warga: Estetika Lingkungan vs Dampak Ekonomi. Dimana penolakan ini dipicu oleh kejenuhan warga terhadap banyaknya infrastruktur serupa di wilayah mereka. Wasit, salah satu perwakilan warga terdampak, menyuarakan keresahan yang mewakili tetangga-tetangga dekat lokasi, seperti Anas dan H. Ali.
“Kami berharap pembangunan ini segera dihentikan. Wilayah kami sudah terlalu banyak tower. Jujur saja, keberadaan mereka selama ini tidak memberikan dampak perekonomian yang nyata bagi masyarakat sekitar. Kami hanya mendapatkan pemandangan besi, bukan kesejahteraan,” tegas Wasit dengan nada kecewa.

Mendengar langsung keluhan tersebut, PJ Kades Campaka, Mohammad Zainal, mengambil sikap tegas untuk berdiri bersama warganya. Berdasarkan hasil musyawarah, disimpulkan bahwa warga meminta rencana pembangunan tersebut dipindahkan ke lokasi lain yang tidak berdekatan dengan pemukiman padat atau dibatalkan sama sekali.
“Sebagai perwakilan masyarakat, saya menyampaikan aspirasi warga agar rencana pembangunan tower ini dievaluasi kembali. Lokasinya harus dipindahkan karena warga sekitar sudah menyatakan menolak secara bulat,” ujar Zainal.
Zainal juga memberikan pesan terbuka kepada manajemen PT XL Axiata agar mengedepankan aspek sosial dibandingkan sekadar ekspansi infrastruktur.
“Saya sangat berharap pihak PT lebih bijak. Bisnis tentu penting, tapi mendengar keluhan dan menjaga harmoni dengan masyarakat adalah hal yang jauh lebih utama dalam menjaga keberlanjutan usaha mereka di sini,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga Dusun Samporna tetap pada pendiriannya. Tetap menanti Kebijaksanaan Perusahaan. Mereka berharap pihak perusahaan tidak memaksakan kehendak dan menghormati hasil musyawarah demi menjaga kondusivitas wilayah.












